Perang Terlama dan Paling Mematikan yang Pernah Terjadi di Dunia
Senin, 16 Maret 2026 | 11:30 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Perang merupakan salah satu peristiwa paling menghancurkan dalam sejarah manusia. Hingga kini, konflik bersenjata masih terjadi di berbagai wilayah dunia, termasuk ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat (AS) bersama Israel.
Dampak dari perang tidak hanya dirasakan di medan tempur. Ketika konflik militer terjadi di kawasan penghasil energi, harga minyak mentah dunia biasanya melonjak tajam. Lonjakan ini kemudian memicu kekhawatiran terhadap inflasi tinggi yang berpotensi menekan daya beli masyarakat dan membuka jalan menuju krisis ekonomi.
Lebih dari itu, sejarah menunjukkan bahwa perang merupakan tragedi kemanusiaan yang menimbulkan penderitaan luas. Konflik bersenjata tidak pernah memilih korban. Anak-anak, orang dewasa, laki-laki maupun perempuan dapat menjadi korban kekerasan yang terjadi selama perang berlangsung.
Ironisnya, banyak perang bermula dari ambisi untuk menguasai sumber daya alam, wilayah, maupun kekuasaan politik. Bahkan ketika konflik telah berakhir, dampaknya tidak langsung hilang. Trauma sosial, kerugian ekonomi, serta kemiskinan sering kali masih membekas lama setelah dentuman senjata berhenti.
Sepanjang sejarah modern, dunia mencatat berbagai konflik brutal yang menelan korban dalam jumlah sangat besar. Peristiwa-peristiwa ini menjadi pengingat penting tentang betapa mahalnya harga yang harus dibayar akibat konflik bersenjata.
10 Perang Paling Brutal dalam Sejarah Modern
Dalam sejarah modern, sejumlah perang dan konflik politik tercatat sebagai peristiwa paling mematikan karena jumlah korban yang sangat besar. Beberapa konflik bahkan menewaskan puluhan juta orang dan mengubah arah sejarah dunia.
1. Perang Dunia II (1939-1945)
Perang Dunia II merupakan konflik paling mematikan dalam sejarah modern. Perang ini dimulai pada 1 September 1939 ketika Jerman Nazi di bawah kepemimpinan Adolf Hitler menyerbu Polandia.
Tindakan tersebut memicu Inggris dan Prancis menyatakan perang terhadap Jerman sehingga konflik berkembang menjadi perang global yang melibatkan hampir seluruh negara besar di dunia, termasuk Amerika Serikat.
Di Eropa, pasukan Jerman sempat menguasai sebagian besar wilayah hingga akhirnya tertahan oleh perlawanan sengit Uni Soviet, terutama dalam pertempuran besar di Stalingrad.
Sementara itu di kawasan Asia-Pasifik, Jepang menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbor pada 1941. Serangan tersebut membuat Amerika Serikat resmi masuk ke dalam perang.
Total korban jiwa Perang Dunia II diperkirakan mencapai sekitar 66 juta orang. Salah satu tragedi paling mengerikan dalam konflik ini adalah Holocaust, ketika rezim Nazi membantai lebih dari 6 juta orang Yahudi.
Selain itu, dunia juga menyaksikan tragedi pembantaian Nanjing oleh tentara Jepang yang menewaskan ratusan ribu warga sipil.
Konflik ini akhirnya berakhir setelah Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945 yang menewaskan lebih dari 200 ribu orang dalam waktu singkat.
2. Era Mao Zedong (1949-1976)
Mao Zedong dikenal sebagai tokoh revolusi yang mendirikan Republik Rakyat China setelah berhasil mengalahkan Kuomintang pada 1949. Namun masa kepemimpinannya juga tercatat sebagai salah satu periode paling kelam dalam sejarah modern.
Kebijakan paling kontroversial yang ia jalankan adalah program Great Leap Forward pada 1958 hingga 1962. Program ini bertujuan mengubah China dari negara agraris menjadi negara industri melalui percepatan produksi baja serta kolektivisasi pertanian.
Kebijakan tersebut justru berujung pada kegagalan besar. Sistem pertanian komunal membuat produksi pangan menurun drastis, sementara laporan yang tidak akurat dari pejabat daerah membuat pemerintah pusat tidak mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan.
Akibatnya, kelaparan besar melanda berbagai wilayah di China dan menewaskan sedikitnya 30 juta orang.
Situasi semakin memanas ketika Mao meluncurkan Revolusi Kebudayaan pada 1966 hingga 1976 untuk menghapus pengaruh kapitalisme dan feodalisme. Banyak kalangan intelektual, pejabat pemerintah, guru, hingga pelajar menjadi sasaran penindasan.
Secara keseluruhan, periode pemerintahan Mao diperkirakan menelan sekitar 40 juta korban jiwa.
3. Era Joseph Stalin (1928-1953)
Joseph Stalin mulai memperkuat kekuasaannya di Uni Soviet setelah wafatnya Vladimir Lenin pada 1924. Melalui persaingan politik di dalam Partai Komunis, Stalin akhirnya menjadi pemimpin utama negara tersebut.
Salah satu kebijakan paling kontroversial adalah kolektivisasi pertanian. Pemerintah memaksa jutaan petani menyerahkan lahan mereka untuk digabungkan menjadi pertanian kolektif milik negara. Petani yang menolak sering kali ditangkap, diasingkan, bahkan dieksekusi.
Kebijakan ini memicu bencana kelaparan besar di sejumlah wilayah, terutama di Ukraina pada awal 1930-an yang dikenal sebagai Holodomor.
Selain itu, Stalin juga menjalankan kampanye pembersihan politik yang disebut Great Purge pada 1936. Dalam kampanye tersebut, siapa pun yang dianggap sebagai musuh politik dapat ditangkap atau dihukum.
Meskipun rezimnya berhasil membangun industri berat dan menjadikan Uni Soviet sebagai salah satu kekuatan dunia, harga yang harus dibayar sangat mahal. Pemerintahan Stalin diperkirakan menelan sekitar 20 juta korban jiwa.
4. Perang Dunia I (1914-1918)
Perang Dunia I sering disebut sebagai The Great War dan menjadi konflik global besar pertama di era modern. Konflik ini dipicu oleh pembunuhan Archduke Franz Ferdinand dari Austria di Sarajevo yang memicu reaksi berantai antarnegara sekutu di Eropa.
Dalam waktu singkat, banyak negara terseret ke dalam konflik berskala besar.
Di front Barat, tentara harus bertahan di parit-parit berlumpur sambil menghadapi serangan artileri, gas beracun, serta senapan mesin. Kondisi ini membuat pertempuran berlangsung sangat brutal.
Pertempuran besar seperti Somme dan Verdun menewaskan ratusan ribu orang hanya dalam hitungan minggu. Secara keseluruhan, perang ini diperkirakan menyebabkan sekitar 15 juta korban jiwa.
5. Perang Saudara Rusia (1918-1920)
Setelah Revolusi Bolshevik pada 1917, Rusia tidak langsung stabil. Negara tersebut justru terjerumus ke dalam konflik internal yang dikenal sebagai Perang Saudara Rusia.
Konflik ini mempertemukan Tentara Merah yang berhaluan komunis dengan Tentara Putih yang menentang komunisme. Selain itu, beberapa negara Barat juga turut melakukan intervensi.
Korban jiwa dalam konflik ini tidak hanya berasal dari pertempuran, tetapi juga akibat wabah penyakit serta kelaparan besar yang melanda masyarakat.
Penyakit seperti tifus dan flu menyebar luas di tengah kondisi sosial yang kacau. Dalam waktu sekitar dua tahun, konflik ini diperkirakan menewaskan sekitar 9 juta orang.
6. Perang Saudara China (1927-1937 dan 1945-1949)
Perang Saudara China merupakan konflik panjang antara Kuomintang yang berhaluan nasionalis dan Partai Komunis China.
Konflik ini sempat terhenti ketika Jepang menginvasi China. Namun setelah Jepang kalah, pertempuran antara kedua pihak kembali terjadi.
Perang berkepanjangan ini menyebabkan jutaan orang kehilangan rumah, keluarga, serta sumber penghidupan. Secara keseluruhan, konflik tersebut menewaskan sekitar 7 juta orang.
7. Perang Vietnam (1959-1975)
Perang Vietnam menjadi salah satu konflik besar pada masa Perang Dingin. Vietnam Utara yang berhaluan komunis mendapat dukungan dari Uni Soviet dan Tiongkok, sementara Vietnam Selatan memperoleh dukungan militer dari Amerika Serikat.
Konflik ini berlangsung panjang dengan strategi perang gerilya, serangan udara besar-besaran, serta berbagai tragedi kemanusiaan seperti pembantaian My Lai.
Lebih dari 4,2 juta orang diperkirakan meninggal dunia dalam konflik ini, termasuk jutaan warga sipil.
Selain meninggalkan luka mendalam bagi rakyat Vietnam, perang ini juga meninggalkan dampak besar bagi masyarakat Amerika Serikat yang hingga kini masih membahasnya sebagai salah satu kegagalan intervensi militer terbesar dalam sejarah negara tersebut.
8. Perang Kongo II (1998-2002)
Perang Kongo II sering disebut sebagai Great African War karena melibatkan hingga sembilan negara di Afrika.
Konflik ini dipicu oleh perebutan sumber daya alam yang melimpah di wilayah Kongo, termasuk berlian dan kobalt.
Sebagian besar korban jiwa bukan berasal langsung dari pertempuran, melainkan akibat kelaparan, penyakit, serta kekerasan milisi selama konflik berlangsung.
Dalam kurun waktu sekitar empat tahun, perang ini diperkirakan menelan sekitar 3,8 juta korban jiwa.
9. Korea Utara (Sejak 1948)
Sejak berdirinya Korea Utara pada 1948 di bawah kepemimpinan dinasti Kim, negara tersebut berkembang menjadi salah satu negara paling tertutup di dunia.
Tekanan politik, keberadaan kamp kerja paksa, serta kebijakan ekonomi yang tidak berhasil membuat rakyat mengalami penderitaan panjang.
Pada dekade 1990-an, negara ini mengalami bencana kelaparan besar yang diperkirakan menewaskan sekitar 3 juta orang.
10. Perang Korea (1950-1953)
Perang Korea dimulai pada 1950 ketika Korea Utara melancarkan serangan terhadap Korea Selatan.
Amerika Serikat bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa memberikan dukungan militer kepada Korea Selatan, sementara China membantu Korea Utara.
Pertempuran sengit di Semenanjung Korea menghancurkan banyak kota serta menelan sekitar 3 juta korban jiwa.
Perang Terlama dalam Sejarah Dunia
Selain konflik brutal dengan korban sangat besar, sejarah juga mencatat sejumlah perang yang berlangsung sangat lama bahkan mencapai ratusan tahun.
Salah satu yang paling panjang adalah Perang Agama Iberian atau Reconquista yang berlangsung selama sekitar 781 tahun, dari 711 hingga 1492.
Konflik ini terjadi di Semenanjung Iberia antara kerajaan-kerajaan Kristen dengan bangsa Moor Muslim yang mendirikan kekuasaan di wilayah tersebut.
Konflik panjang ini berakhir setelah penaklukan Granada pada 1492 yang menjadi wilayah Muslim terakhir di kawasan tersebut.
Konflik panjang lainnya adalah Perang Roma-Persia yang berlangsung sekitar 682 tahun sejak 54 SM hingga 628 M. Perang ini melibatkan Kekaisaran Roma atau Bizantium melawan Kekaisaran Parthia dan kemudian Sasaniyah.
Konflik berkepanjangan ini terutama berkaitan dengan perebutan wilayah strategis seperti Mesopotamia dan Armenia serta jalur perdagangan penting. Perang panjang tersebut melemahkan kedua kekaisaran sehingga membuka peluang bagi munculnya kekuatan baru yaitu Kekhalifahan Islam.
Sejarah juga mencatat Perang Inggris-Wales yang berlangsung sekitar 483 tahun sejak tahun 800 hingga 1283. Konflik ini dipicu oleh ambisi Kerajaan Inggris untuk memperluas wilayah kekuasaan ke kawasan Wales.
Serangkaian pertempuran, penjarahan, serta perubahan wilayah terjadi sepanjang konflik tersebut hingga akhirnya wilayah Wales berhasil ditaklukkan oleh Raja Edward I pada 1283.
Konflik yang cukup unik adalah Perang 335 Tahun antara Kepulauan Scilly dan Belanda yang berlangsung dari 1651 hingga 1986. Perang ini bermula ketika Belanda menyatakan perang terhadap pulau kecil di dekat Cornwall tersebut karena kapal-kapal Belanda mengalami kerugian akibat aktivitas armada pendukung Raja Charles I yang berlindung di Scilly.
Menariknya, konflik ini tidak pernah melibatkan pertempuran sama sekali dan bahkan terlupakan selama berabad-abad. Pada 1986 seorang sejarawan menemukan bahwa tidak pernah ada perjanjian damai resmi antara kedua pihak, sehingga Belanda dan Scilly akhirnya menandatangani kesepakatan damai.
Perang panjang lainnya adalah Perang Seratus Tahun antara Inggris dan Prancis yang berlangsung dari 1337 hingga 1453. Konflik ini dipicu oleh sengketa suksesi takhta Prancis.
Perang ini juga dikenal karena perkembangan teknologi militer seperti penggunaan busur panjang serta kemunculan tokoh penting seperti Joan of Arc. Pada akhirnya Prancis berhasil memenangkan konflik tersebut.
Selain itu terdapat pula Perang Belanda-Portugis yang berlangsung selama sekitar 60 tahun sejak 1601 hingga 1661. Konflik ini terjadi di berbagai wilayah dunia karena kedua negara bersaing untuk menguasai jalur perdagangan dan wilayah kolonial di Afrika, Amerika Selatan, serta Asia. Dalam konflik ini Belanda berhasil merebut beberapa lokasi strategis meskipun kedua pihak sama-sama mengalami kerugian ekonomi besar.
Sejarah membuktikan bahwa perang selalu meninggalkan dampak yang sangat besar bagi umat manusia. Konflik bersenjata tidak hanya menghancurkan wilayah, tetapi juga menimbulkan penderitaan panjang bagi jutaan orang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Polisi Temukan Senjata Tajam di TKP Mahasiswi Unpad Dilindas Motor




