Trump Ancam Keluar dari NATO, Seperti Apa NATO Eropa Tanpa AS?
Rabu, 15 April 2026 | 20:52 WIB
Brussel, Beritasatu.com - Hubungan Amerika Serikat dan sekutu Eropa kembali memanas setelah Presiden Donald Trump mengancam akan keluar dari NATO. Menyikapi hal itu, negara-negara Eropa dilaporkan mulai menyiapkan skenario pertahanan tanpa keterlibatan Washington.
Laporan The Wall Street Journal, Selasa (14/4/2026) menyebutkan, para pejabat Eropa diam-diam menyusun rencana darurat untuk menjaga keamanan kawasan jika AS benar-benar meninggalkan aliansi yang telah berdiri selama 75 tahun tersebut.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump kembali menegaskan sikapnya terhadap NATO. Ia menilai negara-negara Eropa tidak memberikan dukungan yang cukup kepada AS dalam konflik melawan Iran.
“Amerika harus meninjau kembali aliansi tersebut karena negara-negara Eropa tidak mendukung kita,” kata Trump.
Ketegangan ini dipicu oleh perbedaan sikap terkait konflik Iran. Negara-negara Eropa menolak bergabung dalam blokade AS terhadap pelabuhan Iran maupun operasi militer di Selat Hormuz.
Sebaliknya, Eropa memilih pendekatan diplomasi dan hanya bersedia terlibat setelah konflik mereda. Prancis dan Inggris bahkan tengah menyiapkan konferensi untuk membuka kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz secara independen.
Ancaman Trump untuk menarik pasukan dari Eropa memicu kekhawatiran baru di kawasan. Sejumlah negara mulai mengantisipasi kemungkinan berkurangnya peran militer AS.
Menurut laporan tersebut, pejabat dari Inggris, Prancis, Jerman, Polandia, negara-negara Nordik, dan Kanada telah menggelar pertemuan tertutup guna merancang konsep “NATO Eropa”.
Konsep ini bertujuan menciptakan aliansi yang tetap mampu beroperasi tanpa dukungan Amerika Serikat. Langkah tersebut mencerminkan kekhawatiran bahwa Washington tidak lagi menjadi mitra yang dapat diandalkan.
Dalam rencana tersebut, Eropa berupaya menggantikan peran personel AS di posisi strategis, termasuk dalam sistem pertahanan udara, logistik militer, hingga komando operasi.
Selain itu, negara-negara Eropa juga berencana memperkuat kemampuan militernya di berbagai sektor, seperti peperangan anti-kapal selam, pengintaian, pengisian bahan bakar di udara, serta mobilitas pasukan.
Di bidang persenjataan, Jerman dan Inggris telah meluncurkan program bersama untuk mengembangkan rudal jelajah siluman dan senjata hipersonik.
Isu sensitif lainnya adalah pertahanan nuklir. Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Friedrich Merz mulai membahas kemungkinan perluasan payung nuklir Prancis untuk melindungi negara-negara Eropa.
Meski demikian, para pejabat mengakui bahwa transisi menuju kemandirian pertahanan bukan hal mudah. Selama ini, NATO sangat bergantung pada kepemimpinan dan teknologi militer AS.
Jaringan satelit, sistem peringatan rudal, serta payung nuklir Amerika masih menjadi fondasi utama aliansi. Menggantikan peran tersebut diperkirakan membutuhkan waktu panjang dan investasi besar.
Mantan komandan NATO, Laksamana Purnawirawan James Foggo, menilai Eropa memiliki potensi, tetapi perlu mempercepat penguatan kapasitas militernya. “Mereka memiliki kemampuan, tetapi perlu berinvestasi dan mengembangkan kemampuan lebih cepat,” ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Korban Perang di Iran dan Lebanon Tembus 5.500 Jiwa
UI Nonaktifkan 16 Mahasiswa FH Terkait Dugaan Kekerasan Verbal




