Kenaikan Harga Plastik Bikin Omzet Pedagang Turun 50 Persen
Selasa, 7 April 2026 | 17:58 WIB
Majalengka, Beritasatu.com - Kenaikan harga plastik di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, dalam tiga pekan terakhir mulai dirasakan para pedagang. Kenaikan yang terjadi cukup signifikan ini berdampak pada penurunan omzet penjualan, bahkan mencapai hingga 50 persen.
Berdasarkan pantauan di Pasar Kadipaten, Majalengka, Jawa Barat, menunjukkan harga berbagai jenis bahan plastik mengalami kenaikan tajam hingga dua kali lipat. Kenaikan terjadi hampir di seluruh produk, mulai dari sedotan, kantong plastik, plastik es, hingga gelas cup.
Kondisi tersebut diduga dipicu terganggunya pasokan bahan baku akibat konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat-Israel. Dampaknya, distribusi bahan baku plastik ikut terhambat hingga ke tingkat lokal.
Salah satu pedagang plastik, Tresna mengatakan, lonjakan harga terjadi secara menyeluruh dalam waktu singkat. Situasi ini memaksa pedagang lebih berhati-hati dalam mengatur pembelian barang agar tidak merugi.
“Kenaikannya gede banget. Semua jenis naik, dari plastik, kertas nasi, gelas, sampai styrofoam,” katanya kepada wartawan, Selasa (7/4/2026).
Menurutnya, kenaikan mulai terasa sejak pertengahan bulan puasa dan hingga kini masih terus berlangsung dengan perubahan yang sulit diprediksi. Hal ini membuat pedagang kesulitan menentukan strategi usaha.
“Mulai terasa itu pas pertengahan puasa sampai sekarang. Harganya enggak terkendali,” ujarnya.
Ia menjelaskan, lonjakan harga membuat kebutuhan modal meningkat drastis untuk mendapatkan jumlah barang yang sama. Jika sebelumnya dengan modal Rp 2,5 juta bisa memperoleh sekitar 10 dus barang, kini dibutuhkan hingga Rp 5 juta.
“Sekarang terpaksa belanja tiap hari supaya bisa mengikuti perubahan harga. Kenaikannya cepat berubah, kadang hari ini beli, besok sudah beda lagi. Dampaknya bikin pusing, bahkan jam jualan jadi berkurang,” jelasnya.
Tresna menduga kenaikan harga tidak sepenuhnya berasal dari produsen, melainkan dipengaruhi distributor akibat terbatasnya pasokan di tingkat produksi.
“Sebenarnya pabrik belum tentu naikin harga, tetapi karena belum produksi, distributor yang menaikkan harga,” ungkapnya.
Dampak kenaikan harga plastik turut dirasakan pelaku usaha minuman, khususnya penjual es yang bergantung pada bahan kemasan plastik. Kenaikan biaya produksi memaksa sebagian pedagang menyesuaikan harga jual agar usaha tetap berjalan.
Sementara itu pedagang es, Muhammad Rizki menuturkan, kenaikan harga bahan baku terjadi cukup signifikan dan berlangsung hampir setiap hari. Kondisi ini menyulitkan pelaku usaha dalam menjaga harga jual tetap terjangkau bagi konsumen.
“Kenaikannya cukup tinggi dan terus berubah. Bukan cuma plastik, bahan lain seperti buah juga ikut naik,” katanya.
Ia mengaku menaikkan harga jual produknya dari Rp 10.000 menjadi Rp 12.000 per cup untuk menutupi kenaikan biaya produksi, meski kenaikan bahan baku mencapai sekitar 50 persen.
“Kalau tidak dinaikkan, tidak nutup modal. Tapi saya hanya naikkan sekitar 20 persen supaya masih terjangkau,” ujarnya.
Meski telah melakukan penyesuaian harga, ia menyebut omzet penjualan tetap menurun akibat melemahnya daya beli masyarakat.
Pedagang es lainnya, Sanif Rizki Detiana memilih mempertahankan harga jual demi menjaga pelanggan di tengah kenaikan biaya produksi.
“Kalau harga dinaikkan kasihan ke pembeli. Jadi, saya tetap jual dengan harga lama,” katanya.
Keputusan tersebut berdampak langsung pada penurunan keuntungan. Ia memperkirakan omzet usahanya turun sekitar 20 persen sejak harga bahan baku mulai meningkat.
“Keuntungan jelas berkurang. Namun, harus tetap dijalani, yang penting pembeli tetap ada,” ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




