ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Upaya Pengusaha Ritel Tahan Harga Produk Plastik

Rabu, 15 April 2026 | 21:30 WIB
EM
MK
Penulis: Erfan Maruf | Editor: MBK
Pedagang plastik di Pasar Baru Kranggot, Kota Cilegon tertekan dengan kenaikan harga.
Pedagang plastik di Pasar Baru Kranggot, Kota Cilegon tertekan dengan kenaikan harga. (Beritasatu.com/Ferry Yuniar)

Jakarta, Beritasatu.com – Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mengungkapkan kenaikan harga produk berbasis plastik mulai dirasakan pelaku ritel dalam beberapa pekan terakhir.

Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah mengatakan, saat ini pelaku usaha masih berupaya melakukan negosiasi dengan pemasok guna menahan kenaikan harga di tingkat konsumen.

“Dari dua minggu lalu hingga minggu lalu kenaikan sudah mulai terasa. Kami masih dalam proses negosiasi harga lama, tetapi jika tidak memungkinkan, penyesuaian akan dilakukan secara bertahap,” ujar Budihardjo di Gedung Smesco, Jakarta, Selasa (15/4/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan harga terutama terjadi pada produk makanan dan minuman, serta barang elektronik dan alat listrik yang menggunakan komponen plastik. Selain itu, produk rumah tangga seperti ember dan perlengkapan sejenis juga mengalami kenaikan harga.

ADVERTISEMENT

Secara umum, kenaikan harga di tingkat ritel berada di kisaran 5% hingga 10%. Namun, sebagian pelaku usaha masih berupaya menahan kenaikan tersebut melalui berbagai strategi.

“Ada yang naik 5%, ada juga 10%. Rata-rata mendekati 10%, tetapi kami masih terus melakukan negosiasi,” kata Budihardjo.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya potensi tekanan terhadap daya beli masyarakat akibat kenaikan harga tersebut. Untuk mengantisipasi dampak tersebut, pelaku ritel memperkuat berbagai program promosi, termasuk kampanye belanja produk dalam negeri serta menarik wisatawan asing agar berbelanja di Indonesia.

Pada sisi lain, Hippindo menilai kondisi rantai pasok bahan baku masih relatif aman dalam jangka pendek. Ketersediaan stok dari pemasok diperkirakan mencukupi untuk satu hingga dua bulan ke depan.

Namun, tantangan justru muncul pada proses impor barang jadi yang dinilai masih menghadapi sejumlah hambatan.

Budihardjo pun mendorong pemerintah untuk memberikan kemudahan dalam kegiatan impor, khususnya bagi produk yang belum diproduksi di dalam negeri. Langkah tersebut dinilai dapat menahan aliran belanja masyarakat ke luar negeri sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi domestik.

“Yang terpenting adalah kemudahan berusaha. Jangan dipersulit dengan aturan baru. Jika impor dipermudah, masyarakat akan berbelanja di dalam negeri dan tetap memberikan kontribusi pajak,” pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Perang AS-Iran Picu Krisis Plastik, Daun Pisang-Kertas Jadi Alternatif

Perang AS-Iran Picu Krisis Plastik, Daun Pisang-Kertas Jadi Alternatif

INTERNASIONAL
Harga Plastik Naik, Apindo: Waspada Stagflasi dan Gangguan Produksi

Harga Plastik Naik, Apindo: Waspada Stagflasi dan Gangguan Produksi

EKONOMI
Harga Plastik Melonjak, RI Buru Impor Nafta dari AS hingga Afrika

Harga Plastik Melonjak, RI Buru Impor Nafta dari AS hingga Afrika

EKONOMI
Harga Kantong Plastik di Polman Naik 50 Persen, UMKM Tertekan

Harga Kantong Plastik di Polman Naik 50 Persen, UMKM Tertekan

NUSANTARA
Harga Plastik Naik, Pedagang Pasar Kranggot Cilegon Tertekan

Harga Plastik Naik, Pedagang Pasar Kranggot Cilegon Tertekan

BANTEN
Harga Plastik Melambung Tinggi, Ini Cara Hemat Tanpa Ribet

Harga Plastik Melambung Tinggi, Ini Cara Hemat Tanpa Ribet

LIFESTYLE

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon