ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Belajar dari Kasus di Cianjur, Ini Kelompok Berisiko Tinggi Campak

Jumat, 27 Maret 2026 | 21:00 WIB
RA
RA
Penulis: Rizky Pradita Ananda | Editor: RP
Ilustrasi campak
Ilustrasi campak (Freepik.com/Freepik)

Jakarta, Beritasatu.com – Penyakit campak terus menyita perhatian masyarakat seiring dengan mencuatnya kabar meninggalnya seorang dokter muda berinisial AMW (26) di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang diduga akibat penyakit campak.

Penyakit Sangat Menular

Campak merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dan dapat menimbulkan komplikasi serius serta kematian. Mengutip laman resmi Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), data global menunjukkan vaksinasi campak telah mencegah hampir 59 juta kematian antara 2000 dan 2024. 

Ironisnya, meski vaksinasi yang aman dan hemat biaya telah tersedia, pada 2024 diperkirakan masih terjadi sekitar 95.000 kematian akibat campak secara global, mayoritas di antara anak-anak yang belum divaksinasi atau kurang divaksinasi di bawah usia 5 tahun.

ADVERTISEMENT

Vaksinasi dosis pertama untuk anak-anak tercatat mencapai 84% pada 2024, sedikit menurun dibandingkan capaian 2019 yang sebesar 86%. 

Kelompok Risiko Tinggi 

Campak menjadi sangat berisiko tinggi bagi siapa pun yang tidak memiliki kekebalan tubuh, baik karena belum divaksinasi maupun tidak mengembangkan antibodi pascavaksinasi. Ini artinya orang tersebut tetap berisiko terinfeksi. Anak-anak yang belum divaksinasi, ibu hamil, serta individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi serius dari campak.

Penyakit ini sangat umum terjadi, terutama di wilayah Afrika, Timur Tengah, dan Asia. Sebagian besar kasus kematian akibat campak terjadi di negara berpendapatan rendah atau dengan infrastruktur kesehatan yang lemah, sehingga sulit menjangkau seluruh anak dengan imunisasi rutin. Warga yang berada di kawasan terdampak bencana atau konflik, serta kamp-kamp pengungsi, juga memiliki risiko tinggi terinfeksi.

Penularan Campak

Campak termasuk salah satu penyakit paling menular di dunia. Virus campak menyebar melalui kontak dengan cairan dari hidung atau tenggorokan orang yang terinfeksi, baik melalui batuk, bersin, atau udara yang terkontaminasi. Virus dapat tetap aktif dan menular di udara atau pada permukaan yang terkontaminasi hingga dua jam. Satu orang yang terinfeksi campak dapat menularkan hingga 18 orang lain.

Orang yang terinfeksi dapat menularkan virus mulai empat hari sebelum ruam muncul hingga empat hari setelah ruam terlihat. Wabah campak dapat berakibat fatal, terutama pada anak-anak dengan kekurangan gizi. Di negara-negara yang hampir berhasil menyingkirkan campak, kasus yang diimpor tetap menjadi sumber infeksi utama.

Upaya WHO Mengendalikan Campak

Sejak 2020, WHO bersama para pemangku kepentingan global gencar mendukung genda imunisasi 2021–2030, yang menempatkan campak sebagai indikator penting bagi kemampuan sistem kesehatan dalam memberikan imunisasi. 

Kerangka kerja strategis khusus campak dan rubella telah diterbitkan WHO sejak 2020. Dalam kerangka kerja tersebut, ditetapkan tujuh prioritas strategis untuk mencapai dan mempertahankan eliminasi campak dan rubella di tingkat regional.

Penyakit campak - (Antara Foto/Chandra/Dyah)
Penyakit campak - (Antara Foto/Chandra/Dyah)

WHO menekankan tanpa perhatian yng berkelanjutan, pencapaian eliminasi campak bisa hilang dengan cepat. Di daerah yang cakupan imunisasinya rendah, wabah dapat terjadi. Kelompok Penasihat Strategis Ahli Imunisasi WHO menilai bahwa eliminasi campak terancam karena penyakit ini kembali muncul di banyak negara yang sebelumnya hampir mencapai eliminasi.

Untuk memastikan diagnosis tepat waktu dan memantau penyebaran virus, WHO juga terus berupya memperkuat Global Measles and Rubella Laboratory Network (GMRLN). Jaringan laboratorium ini mendukung koordinasi vaksinasi terarah dan upaya pengurangan kematian akibat penyakit yang bisa dicegah vaksin.

Kemitraan IA2030 Campak & Rubella

Kemitraan Agenda Imunisasi 2030 Campak & Rubella merupakan kolaborasi global yang melibatkan Palang Merah Amerika, Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB_, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, Gavi, Aliansi Vaksin, Gates Organization, UNICEF, dan WHO. Kemitraan ini bertujuan memastikan tidak ada anak yang meninggal karena campak atau lahir dengan sindrom rubella kongenital.

Kemitraan ini membantu negara-negara merencanakan, mendanai, dan mengevaluasi upaya pemberantasan campak dan rubella secara permanen, sekaligus mendukung pencapaian target imunisasi global IA2030.

Kasus Nakes di Cianjur

Terkait kasus dokter muda di Ciajur, Kemenkes bersama sejumlah pihak terkait akan melakukan penyelidikan epidemiologi (PE) pada Jumat (27/3/2026) sebagai respons atas meninggalnya dokter berinisial AMW tersebut yang diduga akibat penyakit campak.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman menjelaskan, berdasarkan hasil investigasi sementara Kemenkes, AMW mengalami gejala klinis berupa demam, ruam merah, serta sesak napas berat.

"Almarhum dilaporkan mengalami gejala klinis berupa demam, ruam merah, serta sesak napas berat. Berdasarkan hasil investigasi sementara, pasien mengalami penyakit campak dengan komplikasi pneumonia yang memperburuk kondisi kesehatannya," kata Aji di Jakarta, dikutip dari Antara, Jumat (27/3/2026).

Kemenkes menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya tenaga kesehatan tersebut. Aji menekankan, kasus ini menjadi peringatan penting bagi semua pihak bahwa penyakit campak tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga orang dewasa yang belum divaksinasi atau belum pernah terinfeksi sebelumnya memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi serius yang dapat berujung pada kematian.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Mendekati Status KLB, Kasus Campak Serang Naik 500 Suspek

Mendekati Status KLB, Kasus Campak Serang Naik 500 Suspek

LIFESTYLE
Kemenkes Mulai Vaksinasi Campak untuk Nakes di 14 Provinsi

Kemenkes Mulai Vaksinasi Campak untuk Nakes di 14 Provinsi

LIFESTYLE
KLB Campak, Dinas Kesehatan Pati Genjot Vaksinasi

KLB Campak, Dinas Kesehatan Pati Genjot Vaksinasi

JAWA TENGAH
Kasus Campak Merebak, Dinkes Lebak Minta Anak Segera Imunisasi

Kasus Campak Merebak, Dinkes Lebak Minta Anak Segera Imunisasi

LIFESTYLE
Kasus Campak Merebak, 6 Daerah di Sulawesi Tengah Ditetapkan KLB

Kasus Campak Merebak, 6 Daerah di Sulawesi Tengah Ditetapkan KLB

LIFESTYLE
Apakah Antibiotik Bisa Mengobati Campak? Ini Fakta Medisnya

Apakah Antibiotik Bisa Mengobati Campak? Ini Fakta Medisnya

LIFESTYLE

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon