Bikin Dunia Panik, Ini 7 Fakta Penting Hantavirus yang Perlu Diketahui
Selasa, 12 Mei 2026 | 19:31 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Wabah hantavirus yang merebak pertama kali di kapal pesiar MV Hondius tengah memicu perhatian dunia setelah dilaporkan menyebabkan sedikitnya tiga orang meninggal dunia. Masyarakat global mulai khawatir dan mengira-ngira apakah wabah hantavirus ini berpotensi meluas menjadi pandemi seperti infeksi Covid1-9.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) mengonfirmasi infeksi hantavirus diketahui berasal dari hewan pengerat, dan bersifat dapat menular ke manusia melalui paparan tertentu.
Apa Itu Hantavirus?
Dikutip dari WHO, hantavirus merupakan virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat. Dalam kondisi tertentu, virus ini dapat menular ke manusia dan menyebabkan penyakit serius, bahkan berakibat fatal.
Tingkat keparahan penyakit bervariasi tergantung jenis virus dan wilayah geografis. Di Amerika, hantavirus dapat menyebabkan hantavirus cardio pulmonary syndrome (HCPS) yang menyerang paru-paru dan jantung dengan perkembangan cepat.
Sementara itu, di Eropa dan Asia, hantavirus lebih sering menyebabkan hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS), yang menyerang ginjal dan pembuluh darah.
Awal Merebak
Nama Hantavirus pertama kali muncul terdengar dan menjadi pemberitaan setelah tiga penumpang kapal pesiar MV Hondius yang dioperasikan perusahaan pelayaran asal Belanda, dilaporkan meninggal dunia saat kapal tengah berlayar di Samudera Atlantik.
Peristiwa ini menjadi viral karena diduga berkaitan dengan wabah virus langka bernama hantavirus. Kejadian tersebut memicu kekhawatiran sekaligus rasa penasaran publik.
Insiden ini terjadi di tengah perjalanan wisata laut yang seharusnya menjadi pengalaman menyenangkan bagi para penumpang. Namun, situasi berubah mencekam dan menjadi darurat kesehatan ketika sejumlah penumpang mengalami gejala serius, sehingga WHO pun langsung turun tangan untuk melakukan investigasi.
Klasifikasi Virus Hantavirus
Hantavirus termasuk dalam keluarga Hantaviridae dalam ordo Bunyavirales. Setiap jenis hantavirus umumnya memiliki hewan pengerat tertentu sebagai reservoir alami, di mana virus hidup tanpa menimbulkan gejala pada hewan tersebut.
Meski banyak jenis telah ditemukan di dunia, hanya sebagian kecil yang diketahui menyebabkan penyakit pada manusia. Di Amerika Utara, Tengah, dan Selatan, hantavirus menyebabkan HCPS. Salah satu jenisnya adalah Andes virus yang dalam kondisi tertentu dapat menular antar manusia, terutama di Argentina dan Chile. Sementara di Eropa dan Asia, hantavirus menyebabkan HFRS dan hingga kini belum ditemukan bukti penularan antarmanusia.
Beban Penyakit Hantavirus di Dunia
Secara global, hantavirus tergolong jarang tetapi memiliki tingkat kematian yang tinggi. WHO memperkirakan terdapat 10.000 hingga lebih dari 100.000 infeksi setiap tahun di seluruh dunia. Di negara-negara Asia Timur seperti China dan Korea Selatan, HFRS masih menyebabkan ribuan kasus setiap tahun, meski trennya cenderung menurun.
Sementara untuk di Eropa, beberapa ribu kasus dilaporkan setiap tahun, terutama di wilayah utara dan tengah. Sementara di Amerika, HCPS lebih jarang dengan ratusan kasus per tahun.
Meski kasusnya relatif sedikit, tingkat kematian HCPS cukup tinggi, yakni sekitar 2o% hingga 40% sehingga menjadi perhatian serius dunia.
Strain di Indonesia Berbeda
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan strain virus dari kasus hantavirus di Indonesia berbeda dengan kasus di kapal MV Hondius.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Aji Muhawarman, menjelaskan strain yang ditemukan di Indonesia adalah Seoul virus, bukan Andes virus seperti pada kasus kapal pesiar tersebut.
“Strain yang ditemukan di Indonesia didominasi Seoul virus, bukan Andes virus yang dapat menular antarmanusia,” ujar Aji dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (12/5/2026).
Mengutip laman resmi Kemenkes, hal serupa disampaikan Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr Andi Saguni. Ia menegaskan hingga kini belum ditemukan kasus HPS di Indonesia.
“Kasus yang terdeteksi merupakan tipe HFRS dan terus kami pantau melalui sistem surveilans nasional,” jelasnya.
Kronologi Kasus di Indonesia
Indonesia mulai terlibat dalam investigasi setelah menerima notifikasi resmi dari International Health Regulation National Focal Point (IHR NFP) Inggris pada Kamis (7/5/2026) malam.
Notifikasi tersebut menyebutkan adanya warga negara asing berusia sekitar 60 tahun yang tinggal di Jakarta Pusat dan memiliki riwayat kontak erat dengan pasien kedua dari klaster MV Hondius yang meninggal akibat hantavirus Andes.
Kemenkes menyebut individu tersebut memiliki sejumlah faktor risiko, antara lain berada di kapal yang sama, menginap di hotel yang sama di St Helena, serta duduk berdekatan dalam penerbangan menuju Johannesburg, Afrika Selatan.
Kondisi ini membuat pemerintah Indonesia langsung melakukan investigasi epidemiologi secara cepat untuk mencegah potensi penyebaran lebih lanjut.
Berdasarkan data Kemenkes, WNA tersebut melakukan perjalanan panjang. Pada 18–30 Maret 2026 ia berada di Argentina, kemudian menuju Ushuaia sebagai titik keberangkatan kapal MV Hondius.
Pada 1–23 April 2026, ia mengikuti pelayaran kapal tersebut yang diduga menjadi awal paparan virus.
Setelah turun di St Helena pada 24 April 2026, ia menginap di hotel yang sama dengan pasien kedua yang meninggal akibat hantavirus Andes. Keduanya juga berada dalam satu penerbangan menuju Johannesburg dengan posisi kursi berdekatan.
Setelah dari Afrika Selatan, perjalanan dilanjutkan ke Qatar sebelum akhirnya tiba di Indonesia pada 30 April 2026.
Cara Penularan Hantavirus
Menurut Kemenkes, hantavirus banyak ditemukan pada hewan pengerat. Beberapa hewan seperti tikus, tupai, hamster, dan marmut dapat menjadi reservoir virus ini. Di Indonesia, beberapa jenis tikus yang telah terkonfirmasi sebagai pembawa hantavirus antara lain:
- Rattus norvegicus (tikus got)
- Rattus tanezumi (tikus rumah)
- Rattus tiomanicus (tikus belukar)
- Rattus exulans (tikus ladang)
- Rattus argentiventer (tikus sawah)
- Mus musculus (mencit rumah)
- Bandicota indica (tikus wirok)
- Maxomys surifer
Penularan biasanya terjadi melalui kontak dengan urine, saliva, atau feses hewan terinfeksi. Virus dapat masuk melalui luka di kulit atau membran mukosa seperti mata, hidung, dan mulut.
Penularan paling sering terjadi melalui aerosol atau partikel udara terkontaminasi, terutama saat membersihkan area yang menjadi sarang tikus seperti gudang atau rumah kosong. Meski kasusnya jarang, gigitan tikus juga dapat menjadi jalur penularan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan penularan hantavirus antarmanusia di Indonesia.
Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang berpotensi berbahaya meski kasusnya tergolong jarang. Wabah di kapal MV Hondius menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit yang berasal dari hewan pengerat.
Di Indonesia, jenis virus yang ditemukan berbeda dengan kasus internasional dan belum menunjukkan penularan antarmanusia. Pemerintah terus berupaya memperkuat surveilans untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. Masyarakat diharapkan tetap waspada tanpa panik berlebihan terhadap risiko dari lingkungan sekitar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




