38 Warga Baduy Dalam Jalan 50 Km Tanpa Alas Kaki Ikuti Seba Baduy 2026
Jumat, 24 April 2026 | 20:48 WIB
Rangkasbitung, Beritasatu.com — Sebanyak 38 warga Baduy Dalam menempuh perjalanan sejauh 50 kilometer tanpa alas kaki untuk mengikuti tradisi sakral Seba Baduy 2026 di Kabupaten Lebak, Banten.
Rombongan yang dipilih langsung oleh tetua adat tersebut berangkat dari kawasan pedalaman Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, sejak dini hari. Mereka berjalan kaki menuju Rangkasbitung untuk menemui bupati Lebak yang mereka sebut sebagai “Bapak Gede”, sebelum melanjutkan agenda ke kantor gubernur Banten pada hari berikutnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, sekitar pukul 10.00 WIB, rombongan mulai memasuki wilayah Rangkasbitung secara bertahap. Mereka tampil dengan pakaian adat khas berwarna putih dan biru tua, berjalan tertib melewati perkampungan menuju pendopo bupati Lebak yang menjadi pusat kegiatan Seba.
Setibanya di Rangkasbitung, rombongan sempat beristirahat di Terminal Aweh sambil menunggu kedatangan warga Baduy Luar. Selanjutnya, mereka dijadwalkan melanjutkan perjalanan bersama menuju pendopo pada pukul 14.00 WIB.
Di tengah perjalanan panjang tersebut, rombongan beberapa kali berhenti untuk memulihkan tenaga setelah berjalan puluhan kilometer dari wilayah pedalaman.
Tradisi Seba Baduy yang digelar setiap tahun bukan sekadar seremoni adat, melainkan wujud penghormatan masyarakat Baduy kepada pemerintah sebagai representasi negara. Tradisi ini juga sarat nilai spiritual dan sosial yang mencerminkan keharmonisan antara manusia, alam, dan pemimpin.
Dalam pelaksanaan Seba Baduy 2026, warga membawa amanat dari tetua adat kepada bupati Lebak agar terus menjaga kelestarian alam, termasuk gunung dan hutan, serta memperkuat nilai kebersamaan di tengah perkembangan zaman.
Salah seorang warga Baduy Dalam, Aldi (37), menyampaikan, rombongan berasal dari tiga kampung, yaitu Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Mereka memulai perjalanan dari wilayah Ciboleger sekitar pukul 03.00 WIB.
"Ini sudah menjadi kewajiban dan tradisi dari dahulu. Kami datang untuk bersilaturahmi dengan Bapak Gede sambil membawa hasil bumi," ujar Aldi kepada wartawan di sela perjalanan.
Ia menambahkan, hasil bumi yang dibawa antara lain pisang, gula merah, serta berbagai komoditas alam lainnya dengan berat sekitar 10 hingga 15 kilogram per orang. "Yang dibawa banyak. Seperti pisang, gula merah dan hasil alam lainnya," pungkasnya.
Tradisi Seba Baduy tidak hanya menjadi simbol penghormatan kepada pemerintah, tetapi juga menjadi pengingat penting bagi masyarakat luas untuk menjaga warisan leluhur, mencintai alam, serta menghargai kehidupan sederhana yang penuh makna di tengah arus modernisasi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Revitalisasi Alun-alun Kota Serang Ditargetkan Rampung Desember 2026




