Ironi Anak Bunuh Diri di NTT
Kamis, 12 Februari 2026 | 14:31 WIB
Sebelum mengakhiri hidup, YBR yang selama ini tinggal di rumah neneknya Welumina Nenu (80) meninggalkan sepucuk surat yang ditulis dalam Bahasa Bajawa kepada ibunya, isinya sebagai berikut:
Kertas tii mama reti (Surat untuk mama Reti)
Mama galo zee (Mama pelit sekali)
Mama molo ja’o galo mata mae rita ee mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao galo mata mae woe rita ne’e gae ngao ee (Mama kalau saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya)
Molo mama (Selamat tinggal mama)
Selama hidupnya, YBR tumbuh dalam kondisi keluarga rentan, tanpa pendampingan orang tua yang utuh, dan jauh dari jangkauan bantuan pemerintah. Sang ayah sudah berpisah dari ibunya sejak YBR dalam kandungan.
Sebagai orang tua tunggal, Maria Goreti banting tulang bekerja serabutan memenuhi kebutuhan keluarga. Dia memiliki lima anak, termasuk YBR. Kemiskinan membuat tiga anaknya putus sekolah karena ketiadaan biaya.

YBR sejak usia 1 tahun dan 7 bulan tinggal dan diasuh oleh neneknya Welumina yang rumahnya terpisah dari sang ibu. Dia berupaya memenuhi kebutuhan cucunya meski kehidupannya tak kalah melarat.
“Kami selalu berusaha penuhi (kebutuhan) semampu kami,” ujar Welumina, Selasa (3/2/2026).
Bersama nenek, YBR tinggal di rumah pondok yang sangat sederhana di lingkungan terpencil Desa Nenowea dengan ekonomi yang amat terbatas.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Welumina berjualan sayur hingga kayu bakar. YBR sehari-hari sering membantu neneknya.
Ketiadaan biaya membuat YBR sempat enggan sekolah. Terakhir, dia menjumpai ibunya untuk meminta uang membeli buku dan pulpen, sebelum mengakhiri hidup dengan tragis.
Polisi sudah menutup penyelidikan kasus kematian YBR karena tidak menemukan unsur pidana, termasuk soal perundungan bullying. Bocah itu dipastikan bunuh diri karena faktor ekonomi keluarga.
Meski demikian, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkap sekolah YBR memungut iuran Rp 1,22 juta per siswa per tahun. Namun, belum bisa dipastikan aksi bunuh diri dengan kebijakan penarikan iuran hasil kesepakatan antara sekolah dan komite sekolah itu.
Tren Anak Bunuh Diri
Kematian YBR menambah daftar kasus anak bunuh diri di Indonesia. Sebelumnya, pada Minggu (26/5/2024), seorang berinisial IPY berusia 5 tahun ditemukan tewas bunuh diri bersama kakaknya IKS (31) setelah melompat dari Jembatan Tukad Bangkung, Desa Pelaga, Kabupaten Badung, Bali.
Polisi menyebutkan kakak beradik yatim piatu itu terlilit masalah ekonomi dan tidak memiliki pekerjaan tetap sehingga diduga kuat memilih mengakhiri hidupnya karena sudah putus asa dengan kehidupan.
Kasus serupa juga pernah terjadi di Kampung Cae, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, pada Jumat (5/9/2025). Seorang ibu berinisial EN (34) bersama dua anaknya, AA (11) dan AAP yang baru 11 bulan, mengakhiri hidup karena tak kuat lagi hidup miskin dan terlilit utang.
Sebelum meninggal, EN sempat menulis surat ungkapan isi hatinya dan diletakkan di dinding rumahnya. Dalam surat itu, dia juga mengungkapkan kekecewaan kepada suami yang tidak menafkahinya dan tidak kuat lagi dikucilkan oleh lingkungan.
“Saya sudah lelah lahir batin, saya sudah tidak kuat menjalani hidup seperti ini. Saya lelah hidup terus-terusan terlilit utang yang tidak ada habisnya, malah semakin hari semakin bertambah. Padahal, saya tidak tahu utang kepada siapa saja, berapa jumlahnya, atau utang dari mana,” tulisnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Revitalisasi Alun-alun Kota Serang Ditargetkan Rampung Desember 2026




