ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Ironi Anak Bunuh Diri di NTT

Kamis, 12 Februari 2026 | 14:31 WIB
SM
SM
Penulis: Salman Mardira | Editor: SMR
Lokasi tempat tinggal siswa SD berinisial YBR (10) yang bunuh diri karena tidak punya uang beli kebutuhan sekolah di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT.
Lokasi tempat tinggal siswa SD berinisial YBR (10) yang bunuh diri karena tidak punya uang beli kebutuhan sekolah di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT. (Beritasatu.com/Pepy)

Menurut data KPAI, sedikitnya ada 118 kasus anak bunuh diri di Indonesia sejak 2023 hingga awal 2026. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan perkara anak bunuh diri tertinggi di Asia Tenggara.

Pada 2023, KPAI mencatat ada 46 kasus anak mengakhiri hidupnya. Kemudian pada 2024, tercatat 43 anak. Pada 2025, jumlah anak bunuh diri ada 26 kasus. Sementara selama Januari 2026, ada tiga anak yang mengakhiri hidupnya.

Komisioner KPAI Diyah Puspitarini mengatakan secara angka, kasus bunuh diri anak di Indonesia memang menunjukkan tren penurunan, tetapi tetap saja masih tinggi apabila melihat statistik dalam beberapa tahun terakhir.

“Ini tidak bisa kita normalisasi, secara garis besar Indonesia berada pada kondisi yang darurat anak mengakhiri hidup," ujar Diyah.

ADVERTISEMENT

Diyah menjelaskan, berdasarkan kajian KPAI, terdapat sejumlah faktor yang kerap menyertai kasus anak mengakhiri hidup. Faktor tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kesehatan mental, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan kondisi keluarga.

“Kajian kami di KPAI, penyebab anak mengakhiri hidup itu faktor utamanya pertama bullying, kedua pengasuhan, ketiga faktor ekonomi, dan keempat faktor asmara,” kata Diyah.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat mengatakan kasus YBR bunuh diri menjadi pengingat pentingnya memberikan perhatian psikososial yang berkelanjutan dalam perlindungan anak.

Menurutnya, kondisi emosional anak dipengaruhi banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat. Karena itu, negara, sekolah, dan orang tua perlu menghadirkan ruang yang aman agar anak merasa didengar dan dihargai.

“Dukungan biaya pendidikan penting, tetapi pendampingan psikososial, perhatian moral, dan lingkungan tumbuh kembang yang suportif jauh lebih menentukan bagi anak,” ujar Atip.

 Reporter: Chandra Adi Nurwidya, Albertus Pepi Kurniawan, Andrew Tito.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Tragedi Siswa NTT dan MBG Disorot, Guru Honorer Gugat APBN 2026 ke MK

Tragedi Siswa NTT dan MBG Disorot, Guru Honorer Gugat APBN 2026 ke MK

NASIONAL
Bupati Ngada Ancam Sekolah yang Pungut Biaya dari Siswa

Bupati Ngada Ancam Sekolah yang Pungut Biaya dari Siswa

NUSANTARA
Wisata Wae Pana Meze Ngada, Relaksasi Alami di Jantung Flores

Wisata Wae Pana Meze Ngada, Relaksasi Alami di Jantung Flores

NUSANTARA
Tragedi YB Jadi Pengingat Kemanusiaan, Gubernur NTT: Terima Kasih Media

Tragedi YB Jadi Pengingat Kemanusiaan, Gubernur NTT: Terima Kasih Media

NASIONAL
Menteri PPPA Jamin Kedua Kakak Korban Anak NTT Mendapat Hak Pendidikan

Menteri PPPA Jamin Kedua Kakak Korban Anak NTT Mendapat Hak Pendidikan

NASIONAL
Mengaku Prihatin, Jusuf Kalla Soroti Kasus Siswa SD Bunuh Diri di NTT

Mengaku Prihatin, Jusuf Kalla Soroti Kasus Siswa SD Bunuh Diri di NTT

NUSANTARA

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon