Blokade Selat Hormuz Kini Berimbas ke Pedagang Gorengan dan Warteg
Minggu, 29 Maret 2026 | 18:46 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Lonjakan harga plastik kian mencekik pelaku usaha mikro, mulai dari penjual gorengan hingga pedagang warteg di Jakarta. Para pedagang terpaksa menanggung kenaikan biaya operasional yang signifikan demi menjaga loyalitas pelanggan.
Nanang (48), seorang penjual gorengan di wilayah Palmerah, Jakarta Barat, mengungkapkan harga plastik merek Dayak yang biasa ia gunakan melonjak tajam. Harga per bungkus kini mencapai Rp 17.000 dari sebelumnya hanya Rp 13.000.
"Iya, harga plastik naik. Kalau kemarin saya beli sekitar Rp 13.000, sekarang jadi Rp 17.000," ujar Nanang saat diwawancarai Beritasatu.com, Minggu (29/3/2026).
Meski biaya membengkak, Nanang memilih bertahan dengan harga jual Rp 5.000 untuk empat buah gorengan. Ia mengaku belum berani menaikkan harga karena khawatir ditinggal pembeli, meskipun margin keuntungannya terus tergerus.
Tekanan serupa dirasakan Ofu (21), pengelola warteg di kawasan yang sama. Menurutnya, kenaikan harga plastik terjadi sejak awal Ramadan, beriringan dengan naiknya harga komoditas pokok seperti minyak goreng dan gula.
"Semenjak bulan puasa mulai naik. Plastik naik, minyak juga naik, gula juga," tutur Ofu. Ia memerinci harga plastik merek PE Tomat kini menyentuh Rp 15.000, padahal sebelumnya hanya Rp 10.000 per bungkus.
Kenaikan harga ini merupakan dampak domino dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026. Penutupan jalur strategis Selat Hormuz oleh Iran telah menghambat distribusi bahan baku industri polimer global.
Hingga saat ini, gangguan rantai pasok tersebut mulai merembet ke tingkat pengecer di Indonesia. Penggunaan plastik sendiri sulit dikurangi karena sifatnya yang praktis dan tahan air, terutama bagi pembeli yang membawa makanan saat berkendara di kondisi hujan.
Para pelaku usaha kecil kini hanya bisa berharap stabilitas harga segera kembali. Jika kondisi ini terus berlanjut tanpa intervensi, penyesuaian harga makanan di tingkat konsumen menjadi opsi terakhir yang tak terhindarkan.
"Belum tahu ke depannya. Soalnya kalau kita naikkan sedikit saja, pembeli biasanya langsung komplain," tutup Ofu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




