Pertumbuhan Ekonomi Melambat, Istana: Jangan Lihat dari Satu Sisi
Sabtu, 10 Mei 2025 | 06:04 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2025 sebesar 4,87%. Angka ini menunjukkan perlambatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 5,11%.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa penurunan ini tidak bisa disimpulkan hanya dari satu faktor semata. Ia menegaskan bahwa kondisi global turut memainkan peran signifikan dalam laju pertumbuhan ekonomi nasional.
“Memang betul terjadi sedikit penurunan, tetapi kita harus memahami bahwa pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh banyak faktor. Belanja pemerintah memang salah satunya, tetapi ketegangan geopolitik dan kebijakan negara-negara sahabat juga memberikan dampak besar,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (9/5/2025).
Prasetyo juga menepis anggapan bahwa perlambatan ekonomi disebabkan oleh rendahnya realisasi belanja negara. Menurutnya, di awal tahun anggaran memang belum mencapai puncak penyaluran, sehingga belum bisa menjadi indikator utama penyebab perlambatan.
“Belanja negara belum maksimal di awal tahun, jadi tidak bisa dikatakan sebagai penyebab utama. Selain itu, efisiensi anggaran juga sering disalahartikan, padahal banyak anggaran yang kini diarahkan untuk kegiatan produktif,” jelasnya.
Ia mengimbau publik agar tidak melihat data pertumbuhan hanya dari sisi penurunan. Sebab, ada sektor-sektor yang justru mengalami pertumbuhan signifikan, seperti sektor pertanian yang tumbuh di atas 10%.
“Jangan hanya melihat sisi penurunannya saja. Laporan BPS menunjukkan bahwa beberapa sektor justru mencatatkan pertumbuhan positif, bahkan melampaui tahun-tahun sebelumnya,” tambahnya.
Lebih lanjut, Prasetyo menyebut kebijakan global dan ketegangan geopolitik seperti konflik India-Pakistan turut memengaruhi kondisi ekonomi global, termasuk Indonesia. Hal ini juga berdampak pada naiknya harga komoditas, seperti emas.
“Konflik di berbagai belahan dunia berdampak pada komunitas global. Meskipun tidak terjadi langsung di Indonesia, efeknya tetap terasa,” ungkapnya.
Untuk itu, ia menegaskan pentingnya solidaritas seluruh elemen bangsa dalam menghadapi tantangan ekonomi saat ini.
“Masalah ekonomi tidak bisa ditangani secara sektoral. Semua pihak, mulai dari pelaku usaha, industri, pekerja hingga serikat pekerja harus bersatu mencari solusi demi menjaga kekuatan fundamental ekonomi nasional,” tutupnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Mengejutkan! 200.000 Anak Indonesia Terjerat Judi Online




