Khawatir Efek Kebijakan The Fed, BI Turunkan Suku Bunga
Rabu, 17 September 2025 | 18:30 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia (BI) memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve akan segera menurunkan suku bunga acuan dalam pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) pada 16-17 September 2025. Hal ini juga mempengaruhi BI dalam menentukan suku bunga acuan.
Seperti diketahui, BI memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan (BI-Rate) 25 basis poin menjadi 4,75%. Bank sentral juga menurunkan suku bunga deposit facility 50 basis poin menjadi 3,75% dan suku bunga lending facility diturunkan 25 basis poin menjadi 5,5% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 September 2025.
“Dengan probabilitas melebihi 90% kami meyakini Fed Fund Rate akan mulai turun besok. Itu kita sebagai salah satu pertimbangan yang kami lakukan dalam keputusan penurunan BI-Rate pada hari ini,” ucap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan September 2025 yang berlangsung secara virtual pada Rabu (17/9/2025).
Perry melanjutkan, probabilitas penurunan Fed Funds Rate (FFR) juga semakin tinggi sejalan dengan naiknya tingkat pengangguran AS. Di pasar keuangan global, yield US Treasury menurun sejalan dengan ekspektasi penurunan FFR dan mendorong pelemahan indeks mata uang dolar AS (DXY).
Dengan masih tingginya ketidakpastian, aliran modal global ke komoditas emas semakin meningkat, sedangkan aliran modal ke emerging market (EM) tertahan.
“Ke depan, volatilitas pasar keuangan global masih terus berlanjut sehingga perlu diantisipasi dengan penguatan berbagai respons dan koordinasi kebijakan untuk menjaga ketahanan ekonomi dalam negeri,” tutur Perry.
Dia mengatakan, perekonomian dunia masih dalam tren melambat akibat dampak penerapan tarif resiprokal AS dan ketidakpastian yang masih tinggi. Berbagai indikator menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi terjadi di sebagian besar negara disertai disparitas pertumbuhan antarnegara.
Perry menyoroti keyakinan pelaku ekonomi yang menurun di AS seiring implementasi kebijakan tarif yang berdampak pada melemahnya konsumsi rumah tangga dan naiknya tingkat pengangguran.
“Kami melihat mata uang dolar, indeks mata uang dolar terhadap mata uang dunia DXY maupun juga Asia, itu terjadi cenderung stabil bahkan ada kecenderungan untuk melemah dan itu akan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah,” terang Perry.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




