Waspadai Dampak Kebijakan Ekonomi Protektif ala Trump
Kamis, 10 November 2016 | 14:58 WIB
Jakarta - Bagi para pengamat ekonomi nasional, kemenangan Donald Trump akan sangat mempengaruhi pergerakan ekonomi tak hanya Amerika, namun juga imbasnya ke dunia, tak terkecuali Indonesia.
Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual menuturkan, reaksi pasar keuangan umumnya terkejut dengan kemenangan Trump atas Hillary Clinton. Akibatnya, banyak investor yang mengalihkannya ke portofolio aset yang dinilai aman, seperti emas dan komoditas. Selain itu juga mengalihkan ke mata uang global yang relatif stabil, seperti yen dan Franc Swiss.
Menurutnya, dalam jangka waktu 2 tahun ke depan, kebijakan moneter Bank Sentral AS (Federal Reserve) kemungkinan masih akan akomodatif, sehingga lambat dalam menaikkan bunga. Ini akan memberi harapan positif bagi sektor riil di AS.
"Ini cerita yang dijual banyak analis di AS kemarin malam, sehingga pasar AS positif. Trump juga menjanjikan stimulus fiskal terutama infrastruktur. Ini juga direaksi positif pasar," kata David, di Jakarta, Kamis (10/11).
Namun, bagi banyak negara, tantangan ekonomi dinilai semakin berat, akibat kebijakan ekonomi Trump yang diperkirakan lebih protektif. Hal itu terutama bakal dihadapi negara-negara di Amerika Latin. "AS orientasinya kemungkinan akan ke domestik. Indonesia beruntung, karena pangsa industri kita 63%-65% masih ke pasar domestik. Oleh karenanya, kita jaga saja daya beli masyarakat, iklim investasi diperbaiki, dan belanja pemerintah lebih diefektifkan," ujar dia.
Kebijakan yang konservatif dan proteksionis ala Trump, diperkirakan akan membuat ekonomi AS menggeliat. "Pembatasan terhadap imigran akan memberi banyak kesempatan kerja bagi warga AS, sehingga angka tenaga kerja di AS meningkat dan pengangguran berkurang," jelasnya.
Kebijakan yang antiperdagangan bebas tersebut, menurut David, akan cenderung membatasi gerak perekonomian global. Negara di luar AS akan sulit menjalin kerja sama perdagangan dengan AS. "Ini ada kaitannya dengan kondisi ekonomi yang lagi lesu, isu nasionalisme, antiperdagangan bebas, terapkan (bea masuk) ratusan persen untuk produk-produk asing, orientasi yang antiimigran, antiproduk luar negeri, dan terbukti (Trump) menang," katanya.
Sementara itu, Kepala Ekonom Samuel Aset Management, Lana Soelistianingsih menilai, tidak mudah bagi Trump jika menerapkan kebijakan ekonomi protektif. Jika kebijakan tersebut benar dilaksanakan, Trump akan menemui banyak benturan, terlebih hal itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
"Proteksi tidak semudah itu. Artinya kalau dia sudah melihat akan ada banyak benturan, termasuk dengan WTO (Organisasi Perdagangan Dunia), AS akan menerima balasannya dari negara lain. Sementara itu kita lihat 3 bulan ke depan. Selama kampanyenya Trump memang memudahkan segala sesuatunya. Tetapi jika dia berada di platform partai, dia akan seperti presiden-presiden (dari) Partai Republik lainnya yang selalu potong pajak dan ekspansi fiskal," jelasnya.
Lebih lanjut, Lana menilai, dampak kemenangan Trump tidak hanya ke nilai tukar rupiah tapi juga terhadap perekonomian nasional secara luas. Untuk itu, Bank Indonesia (BI) harus mewaspadai laju rupiah dan jangan sampai melewati batas aman di level Rp 13.280 per dolar AS. BI juga harus terus waspada dengan cara dana cadangan devisa (cadev) yang per akhir Oktober US$ 115 miliar bisa didorong untuk menstabilkan pasar.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyatakan, memang pasar saham AS ditutup menguat pada perdagangan Rabu. Namun, dirinya melihat hal ini hanya bersifat sementara dan lebih strategi profit taking dari pelaku pasar.
"Karena jelas sekali, kebijakan Trump terutama akan fokus pada ekonomi dalam negeri, deportasi terhadap imigran, rencana pemberlakuan bea masuk 100% bagi produk Tiongkok, serta pemangkasan rasio pajak yang akhirnya akan mendorong pelebaran defisit fiskal. Ini tentu akan berdampak negatif dalam jangka menengah," ujar dia.
Kaitannya dengan Indonesia, menurut Josua, Pemerintah AS ke depan kemungkinan akan meninjau ulang perjanjian perdagangan internasional. Apabila ada perubahan, ekspor Indonesia ke AS cenderung menurun, mengingat kontribusi ekspor indonesia ke AS mencakup 11,4% dari total ekspor.
Namun, lanjutnya, Indonesia bisa memetik peluang dari kemungkinan kebijakan protektif Trump yang akan berimbas langsung pada perekonomian negara-negara Amerika Latin. "Terkait dengan investasi, proteksionisme terhadap ekonomi Amerika Latin akan mendongkrak risk premium kawasan itu, sehingga akan mendorong aset-aset negara berkembang lebih atraktif lagi," jelas Josua.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




