Rahasia Bom GBU-57 AS yang Bisa Hancurkan Bunker Nuklir Iran di Fordow
Minggu, 22 Juni 2025 | 10:39 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Amerika Serikat resmi meluncurkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir milik Iran pada Minggu, 22 Juni 2025. Serangan itu menargetkan situs pengayaan uranium di Natanz, Esfahan, dan Fordow, tiga lokasi strategis dalam program nuklir Iran.
“Kami telah menyelesaikan serangan yang sangat sukses terhadap tiga lokasi nuklir di Iran, termasuk Fordow, Natanz, dan Esfahan. Semua pesawat ini kini berada di luar wilayah udara Iran," tulis Donald Trump melalui akun media sosial miliknya, Sabtu (22/6/2025) waktu setempat
Trump menuturkan bahwa bom bermuatan penuh dijatuhkan di lokasi utama, Fordow. "Semua pesawat dalam perjalanan pulang dengan selamat. Selamat kepada prajurit Amerika kita yang hebat. Tidak ada militer lain di dunia yang dapat melakukan ini," tambahnya.
Berdasarkan penelusuran Beritasatu.com, bom yang digunakan oleh Amerika Serikat adalah bom GBU-57. Bom ini dikenal juga sebagai Massive Ordnance Penetrator (MOP).
Bom ini bukan sembarang senjata, melainkan bom penembus bunker terbesar yang pernah dibuat oleh AS, dirancang khusus untuk menghancurkan fasilitas bawah tanah seperti bunker nuklir milik Iran.

Amerika Serikat pernah merilis foto bom tersebut pada 2 Mei 2023. Saat itu sejumlah personel terlihat memperhatikan bom GBU-57 di Pangkalan Udara Whiteman, Missouri.
“Senjata ini memiliki misi utama menembus target-target tersembunyi dan diperkuat secara maksimal di kedalaman tanah,sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh bom konvensional,” tulis CBS.
Bom GBU-57 dikendalikan dengan sistem GPS militer dan mampu menembus hingga 60 meter ke dalam tanah sebelum meledak. Bobotnya sangat luar biasa, hampir 13.600 kilogram, dengan 2.400 kilogram di antaranya adalah bahan peledak murni. Ini membuatnya lebih dari 10 kali lebih kuat dibanding pendahulunya, BLU-109.
Dikembangkan oleh Boeing, bom ini hanya bisa dibawa oleh pesawat pembom siluman B-2 Spirit karena ukurannya yang sangat besar dan bobotnya yang ekstrem. Hingga 2015, Boeing diketahui telah memproduksi 20 unit bom GBU-57 atas kontrak dari Departemen Pertahanan AS.
Bom itu juga diangkut dengan pesawat siluman yakni B-2 Spirit. Pesawat B-2 Spirit sendiri dirancang untuk menembus sistem pertahanan udara tercanggih di dunia.
Dengan desain siluman dan teknologi mutakhir, pesawat ini mampu membawa dua bom GBU-57 sekaligus dalam ruang senjata internalnya. B-2 juga memiliki jangkauan terbang hingga 11.100 kilometer tanpa pengisian bahan bakar ulang, menjadikannya senjata pemukul jarak jauh yang sangat mematikan.
Angkatan Udara AS telah menggunakan B-2 dalam berbagai operasi militer, seperti Perang Kosovo, Afghanistan, dan Irak. Kini, hanya ada satu markas untuk B-2, yaitu di Pangkalan Udara Whiteman, Missouri.
Penggunaan bom GBU-57 bukan tanpa kontroversi. Sejumlah anggota parlemen AS dan pengamat militer sempat mengusulkan agar bom ini disediakan untuk Israel sebagai bagian dari upaya pencegahan terhadap ancaman nuklir Iran. Namun, banyak pihak menilai langkah itu berisiko memperkeruh situasi di Timur Tengah.
Meski dirancang sebagai senjata penghancur fasilitas bawah tanah, bom GBU-57 juga menjadi simbol kekuatan militer AS yang diselimuti teknologi tinggi dan penuh rahasia. Di tengah ketegangan global, keberadaan bom ini terus memicu diskusi: apakah senjata sebesar ini benar-benar menjamin keamanan, atau justru menambah ketidakstabilan dunia?
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




