Donald Trump Klaim Ada Deal dengan Iran, Teheran Sebut Omong Kosong
Senin, 23 Maret 2026 | 21:51 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut adanya komunikasi produktif dengan Iran terkait penutupan selat Hormuz dan perang yang terjadi di kawasan Timur Tengah semakin membingungkan banyak orang. Diketahui, Donald Trump memang secara mengejutkan menarik kembali ancaman serangannya terhadap pembangkit listrik Iran.
Langkah ini diambil di detik-detik terakhir sebelum tenggat waktu 48 jam berakhir. Trump mengklaim bahwa utusan khususnya telah menjalin komunikasi produktif dengan petinggi Iran, yang ia sebut sebagai sosok paling dihormati di negara tersebut, melampaui pengaruh Pemimpin Agung Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Dalam keterangannya, Trump menegaskan bahwa pembatalan serangan ini didasarkan pada "nada dan isi pembicaraan" yang sangat konstruktif dalam dua hari terakhir. Ia bahkan menginstruksikan Departemen Perang untuk menunda semua serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari ke depan. Penundaan ini menjadi napas lega bagi pasar energi dunia yang sebelumnya sempat terguncang hebat.
Menariknya, Trump memilih untuk merahasiakan identitas pejabat Iran yang bernegosiasi dengannya. Ia beralasan bahwa mengungkap nama tersebut bisa membahayakan nyawa sang pejabat di tengah ketidakpastian politik di Teheran. Trump percaya bahwa orang-orang yang diajak bicara oleh utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, adalah representasi sah dari rezim yang ingin mengakhiri konflik.
Namun, narasi dari pihak Iran justru berbanding terbalik. Kementerian Luar Luar Negeri Iran dengan tegas membantah adanya pembicaraan langsung dengan Washington.
“Teheran menuduh Trump hanya melakukan manuver politik untuk menenangkan pasar minyak dunia dan mengulur waktu guna mematangkan rencana militer Amerika Serikat. Bagi Iran, klaim kesepakatan itu hanyalah ‘omong kosong’ belaka,” tulis Axios, Senin (23/3/2026).
Meskipun terjadi saling bantah, Trump sudah merinci poin-poin yang diklaim telah disepakati. Poin-poin tersebut meliputi komitmen Iran untuk tidak mengejar senjata nuklir, menyerahkan simpanan uranium yang ada, hingga janji untuk bersikap lebih pasif dalam pengembangan rudal. Yang paling krusial, Trump mengklaim Iran setuju untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas energi internasional.
Di balik layar, terungkap bahwa ada peran besar dari negara-negara perantara. Sumber dari Axios menyebutkan bahwa Turki, Mesir, dan Pakistan telah sibuk menjadi penyambung pesan antara kedua belah pihak. Menteri Luar Negeri dari ketiga negara tersebut dilaporkan melakukan komunikasi intensif baik dengan pihak AS maupun Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, guna mencegah ledakan perang besar.
Dampak dari klaim "kesepakatan" ini langsung terasa di sektor ekonomi. Kontrak berjangka saham AS melonjak tajam dan harga minyak mentah dunia mulai merosot setelah sebelumnya meroket akibat ancaman bom. Para investor tampaknya lebih memilih percaya pada narasi de-eskalasi yang ditawarkan Trump, terlepas dari bantahan keras yang dikeluarkan oleh pemerintah Iran.
Axios mengatakan saat ini dunia menunggu dengan cemas dalam masa "gencatan senjata" lima hari ini. Jika klaim Trump benar dan pembicaraan berlanjut menjadi pertemuan tatap muka, maka krisis energi global mungkin bisa teratasi. Namun, jika ini hanya sekadar gertakan diplomatik, maka ancaman "pemusnahan" infrastruktur energi Iran akan kembali membayangi Timur Tengah dalam waktu dekat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




