ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Trump Temui Xi Jinping, Strategi 2 Kaki China Terbongkar

Rabu, 13 Mei 2026 | 16:05 WIB
H
H
Penulis: Herman | Editor: HE
Pemimpin Redaksi Beritasatu.com Syukri Rahmatullah (kiri) bersama pengamat politik luar negeri, Pitan Daslani, dalam podcast Relasi di channel YouTube Beritasatu, Rabu, 13 Mei 2026.
Pemimpin Redaksi Beritasatu.com Syukri Rahmatullah (kiri) bersama pengamat politik luar negeri, Pitan Daslani, dalam podcast Relasi di channel YouTube Beritasatu, Rabu, 13 Mei 2026. (Istimewa)

Pitan juga menyoroti pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin saat peringatan Victory Day pada 9 Mei lalu. Dalam kesempatan itu, Putin menyatakan Rusia tidak yakin Iran sedang membangun senjata nuklir. Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan tuduhan AS dan Israel yang menyebut Iran tengah mengembangkan program senjata nuklir.

Meski demikian, kekhawatiran internasional tetap besar karena Iran disebut memiliki lebih dari 20.000 kilogram uranium, termasuk sekitar 440 kilogram uranium yang telah diperkaya hingga lebih dari 60%.

“Kalau diperkaya sampai 90%, itu bisa menghasilkan 11 bom nuklir. Itu yang orang takut,” ujar Pitan.

Posisi Tawar China Kuat

Pitan menilai China kini berada dalam posisi tawar yang sangat kuat karena memiliki pengaruh besar terhadap Iran maupun AS. Hasil pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping juga akan sangat menentukan arah konflik Timur Tengah ke depan, terutama terkait pembukaan Selat Hormuz.

ADVERTISEMENT

Namun, meskipun nantinya kesepakatan damai tercapai, Pitan menilai perang Iran dengan AS dan Israel belum tentu benar-benar berakhir dalam waktu dekat. Ia membedakan antara “pertempuran” dan “peperangan”.

“Pertempuran bisa berhenti, tetapi peperangan tetap berlanjut,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pertempuran adalah bentrokan militer langsung seperti serangan rudal atau baku tembak antar tentara. Namun, peperangan dapat terus berlangsung dalam bentuk lain seperti perang ekonomi, perang dagang, hingga perang intelijen.

“Perang perdagangan dan tekanan ekonomi akan terus berjalan,” katanya.

Pitan menyebut, AS kini mulai mengubah strategi tekanan terhadap Iran. Apabila sebelumnya menggunakan pendekatan militer yang disebut “operation epic fury”, kini AS mulai mengarah pada tekanan ekonomi atau “operation economic fury”.

Strategi itu dilakukan melalui blokade terhadap jalur perdagangan Iran, termasuk di sekitar Selat Hormuz. 
Tujuannya, kata Pitan, adalah melumpuhkan pemerintahan Iran melalui tekanan ekonomi berkepanjangan.

Namun, di sisi lain, Pitan menilai Iran bukan negara yang mudah ditaklukkan. Ia menyebut Iran memiliki sistem pertahanan yang dikenal dengan istilah “mosaic defense”. Sistem itu membuat kekuatan militer Iran tersebar di berbagai wilayah dan lapisan, sehingga tidak mudah dihancurkan hanya dengan menyerang pusat kekuasaan.

“Kalau kepala ularnya diremukkan, badan dan ekornya tetap hidup,” kata Pitan menggambarkan kuatnya sistem pertahanan Iran.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Bursa Asia Pasifik Menguat, Nikkei Catat Rekor Tertinggi

Bursa Asia Pasifik Menguat, Nikkei Catat Rekor Tertinggi

EKONOMI
Ini Respons China Soal Tak Berani Serang Taiwan Selama Trump Berkuasa

Ini Respons China Soal Tak Berani Serang Taiwan Selama Trump Berkuasa

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon