Trump dan Xi Jinping Bahas Penurunan Tarif hingga Rp 480 Triliun
Rabu, 13 Mei 2026 | 20:48 WIB
Washington, Beritasatu.com – Amerika Serikat (AS) dan China diperkirakan akan bergerak menuju sebuah mekanisme perdagangan terkelola (managed trade mechanism) untuk barang-barang non-sensitif pada pekan ini.
Masing-masing pihak berpotensi mengidentifikasi sekitar US$ 30 miliar atau sekitar Rp 480 triliun (kurs asumsi Rp 16.000 per dolar AS) barang yang dapat dikenai penurunan tarif dan diperdagangkan tanpa melanggar batas keamanan nasional.
Skema yang disebut “Board of Trade” tersebut pertama kali diusulkan oleh Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer pada Maret sebagai salah satu “deliverable” utama dari pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan ini.
Namun, meskipun kerangka awalnya mulai terbentuk, detail rencana tersebut masih belum jelas. Perubahan penting dari pendekatan sebelumnya adalah Washington tidak lagi menuntut China mengubah model ekonomi yang dikendalikan negara dan berorientasi ekspor menjadi model seperti AS yang berbasis konsumsi dan pasar.
Sebaliknya, pendekatan yang kini ditempuh lebih berfokus pada target perdagangan kuantitatif di sektor non-strategis, sembari tetap mempertahankan tarif luas dan kontrol ekspor terhadap teknologi yang dianggap sensitif bagi keamanan nasional.
Perubahan pendekatan ini dijelaskan oleh Jamieson Greer, yang menyebut bahwa fokus bukan lagi pada perubahan sistem ekonomi China, melainkan pada optimalisasi perdagangan di antara kedua negara.
“Itu sudah menjadi bagian dari sistem mereka, tetapi saya pikir ada ruang untuk menemukan di mana kita dapat mengoptimalkan perdagangan antara China dan Amerika Serikat untuk mencapai keseimbangan yang lebih baik,” ujar Greer dilansir dari Reuters.
Ia juga menyebut mekanisme tersebut dapat dianalogikan sebagai adaptor yang menghubungkan dua sistem ekonomi yang tidak sepenuhnya kompatibel.
Dalam pembahasan sektor komoditas, Amerika Serikat menargetkan peningkatan penjualan energi dan produk pertanian ke China, sementara Beijing masih menerapkan sejumlah tarif tambahan terhadap impor dari AS, termasuk 10% pada minyak mentah, 15% pada gas alam cair, 15% pada batu bara, dan hingga 55% pada daging sapi.
Sebaliknya, AS juga masih mempertahankan tarif 7,5% pada sejumlah produk konsumen China yang diberlakukan pada 2019 saat puncak perang dagang era pertama Trump, termasuk televisi panel datar, perangkat penyimpanan, pengeras suara pintar, headphone Bluetooth, linen tempat tidur, printer multifungsi serta berbagai jenis alas kaki.
Tarif global sementara sebesar 10% yang berlaku saat ini juga menambah beban tersebut dan dijadwalkan berakhir pada Juli.
AS juga disebut dapat menghidupkan kembali lebih dari 2.200 pengecualian tarif produk China yang sebelumnya diberikan pada masa jabatan pertama Trump, tetapi sebagian besar telah kedaluwarsa.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




