Banjir Semarang Akibat Kiriman Air dan Pompa Tak Maksimal
Jumat, 24 Oktober 2025 | 14:15 WIB
Semarang, Beritasatu.com - Hujan deras selama dua hari telah mengubah wajah Kota Semarang menjadi kolam raksasa. Kawasan seperti Muktiharjo Kidul, Tlogosari Kulon, dan Terboyo Kulon terendam hingga 50 sentimeter. Namun, pusat perhatian utama tetap tersedot ke kawasan Genuk dan Kaligawe, jalur arteri nasional yang setiap tahun menjadi langganan banjir terparah dan paling lama surut.
Di sini, banjir bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan drama tahunan yang mengungkap keterbatasan infrastruktur dan kompleksnya penanganan. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengakui hal ini.
"Kita selalu mendapat kiriman air dari wilayah atas ketika musim hujan tiba," ujarnya pada Jumat (24/10/2025), mengulang penjelasan yang hampir sama setiap tahun.
Pompa-Pompa Tak Maksimal dan Proyek Tol yang Membendung Laut
Di balik pernyataan resmi pemerintah, fakta di lapangan justru lebih suram. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Suwarto, mengungkapkan titik-titik kritis yang membuat penanganan banjir berjalan lambat.
"Pompa di wilayah Waru sedang dalam konstruksi oleh Kementerian PUPR, hanya satu unit yang berfungsi. Jadi memang belum bisa maksimal," papar Suwarto.
Masalahnya bertumpuk. Proyek pembangunan Tol Semarang-Demak disebutnya ikut mempersulit situasi. "Konstruksi tol itu membuat air laut seperti terbendung, sehingga aliran tidak bisa langsung ke laut," tambahnya, menggambarkan bagaimana intervensi manusia justru memperparah alam.
Yang lebih memprihatinkan, armada pompa andalan pun tak semuanya siap bertempur. Pompa-pompa lama milik BBWS banyak yang rusak karena suku cadangnya sudah tidak tersedia. Idealnya, kapasitas rumah pompa bisa mencapai 12.000 liter per detik. Namun, realitanya yang beroperasi hanya sebagian kecil. Enam unit pompa besar hanya dua yang menyala. Di Sringin, situasinya sama.
Upaya Darurat dan Harapan yang Tertunda di Kabel PLN
Di tengah keterbatasan, pemerintah kota berupaya menutup celah dengan pompa-pompa portable. Sepuluh unit dikerahkan, termasuk mobil pompa, untuk mempercepat penyurutan di titik-titik vital.
Namun, solusi jangka panjang masih terhambat di meja teknis. Tiga dari empat unit pompa pengganti memang sudah tiba, tapi nasibnya menggantung pada instalasi listrik dari PLN.
"Panelnya sudah siap, tinggal pasokan listrik dan trafo," ujar Suwarto, menggambarkan betapa rentannya sistem penanggulangan banjir ini pada satu titik kegagalan.
Sementara warga di Rogosari, Mudiarjo, Bangetayu, Genuk, hingga Trimulyo masih waspada dengan genangan, harapan kini dititipkan pada pompa "Kadak Kebo" yang masih setia mengalirkan air ke Banjir Kanal Timur, serta pada janji bahwa dalam minggu-minggu ini instalasi listrik untuk pompa-pompa baru akan rampung.
Pemerintah kota Semarang berjanji terus memantau, tetapi bagi warga yang rumahnya terendam dan para sopir truk yang terjebak di Kaligawe, yang mereka rasakan adalah realita getir tahun ini, mereka sekali lagi harus berdamai dengan air yang datang, sementara solusi permanen masih terasa seperti ilusi di ujung jalan yang tengah terendam.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




