Perayaan Tahun Baru Imlek Indonesia dan Tiongkok, Apa Saja Bedanya?
Senin, 16 Februari 2026 | 13:21 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Imlek atau Tahun Baru China merupakan salah satu perayaan terpenting bagi masyarakat Tionghoa di berbagai negara, termasuk Indonesia dan Tiongkok.
Perayaan ini mengikuti kalender lunar dan tidak sekadar menandai pergantian tahun, tetapi juga menjadi momen refleksi, ungkapan syukur, serta harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Pada 2026, Imlek jatuh pada Selasa (17/2/2026) dan menandai dimulainya Tahun Kuda Api dalam siklus shio. Meski memiliki akar tradisi yang sama, cara perayaan Imlek di Indonesia dan Tiongkok menunjukkan sejumlah perbedaan, baik dari segi durasi, fokus kegiatan, hingga ekspresi budayanya.
Makna Tahun Baru Imlek
Bagi masyarakat Tionghoa, Imlek dimaknai sebagai awal siklus kehidupan yang baru. Perayaan ini menjadi sarana mempererat hubungan keluarga, menghormati leluhur, serta menyambut keberuntungan dan kesejahteraan di tahun mendatang.
Di Tiongkok, Imlek merupakan bagian dari identitas budaya nasional yang telah diwariskan selama ribuan tahun. Sementara itu, di Indonesia, Imlek tidak hanya menjadi perayaan komunitas Tionghoa, tetapi juga simbol pengakuan terhadap keberagaman budaya dalam masyarakat multikultural.
Perbedaan Durasi Perayaan Imlek
Salah satu perbedaan paling mencolok antara perayaan Imlek di Indonesia dan Tiongkok terletak pada lamanya perayaan berlangsung. Di Tiongkok, Imlek dikenal sebagai Festival Musim Semi (Chunjie) dan dirayakan selama 15 hari penuh.
Rangkaian perayaan dimulai sejak malam pergantian tahun dan ditutup pada hari ke-15 dengan festival lentera. Periode ini dipenuhi tradisi keluarga, pertunjukan budaya, hingga ritual spiritual.
Sebaliknya, di Indonesia, perayaan Imlek umumnya berlangsung lebih singkat, biasanya satu hingga dua hari yang bertepatan dengan hari libur nasional. Meski demikian, tradisi utama tetap dijalankan secara khidmat, terutama dalam lingkup keluarga dan komunitas.
Latar Sejarah dan Perkembangan Imlek
Di Tiongkok, Imlek telah dirayakan secara turun-temurun selama ribuan tahun sebagai simbol pembaruan dan kebersamaan keluarga. Perayaan ini juga memicu fenomena mudik massal terbesar di dunia setiap tahunnya, ketika jutaan orang pulang ke kampung halaman untuk merayakan bersama keluarga.
Di Indonesia, perjalanan sejarah Imlek mengalami dinamika sosial-politik. Perayaan ini mulai kembali dirayakan secara terbuka sejak era reformasi. Pengakuan Imlek sebagai hari libur nasional pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid menjadi tonggak penting dalam sejarah kebudayaan nasional, sekaligus simbol penguatan toleransi dan pluralisme.
Pola Perayaan Tahun Baru Imlek
Di Tiongkok, puncak Imlek terletak pada malam tahun baru. Makan malam reuni keluarga menjadi inti perayaan dan dianggap sebagai momen paling sakral. Seluruh anggota keluarga, termasuk yang merantau jauh, berupaya untuk pulang dan berkumpul.
Sementara itu, di Indonesia, perayaan Imlek tidak terpusat pada satu malam tertentu. Kegiatan berlangsung dalam rentang waktu singkat dan lebih tersebar, meskipun makan malam keluarga tetap menjadi tradisi penting yang dijaga.
Tradisi dan Unsur Budaya dalam Imlek
Perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia identik dengan dominasi warna merah sebagai simbol keberuntungan dan kebahagiaan. Tradisi seperti pertunjukan barongsai, kunjungan ke kelenteng, serta pembagian angpau telah mengalami proses akulturasi dengan budaya lokal.
Di Tiongkok, Imlek juga menandai peralihan musim dari musim dingin ke musim semi. Oleh karena itu, Festival Musim Semi dimaknai sebagai awal kehidupan baru yang dirayakan melalui pertunjukan budaya, pesta kembang api, ritual keluarga, dan dekorasi rumah bernuansa merah dan emas.
Kuliner Khas Saat Imlek
Perbedaan perayaan Imlek juga tercermin dalam hidangan yang disajikan. Di Indonesia, makanan seperti kue keranjang, lontong capgome, siu mie, dan lumpia menjadi sajian khas yang kerap hadir dalam perayaan keluarga.
Di Tiongkok, menu Imlek berbeda di setiap wilayah. Di bagian utara, pangsit atau jiaozi menjadi hidangan utama karena bentuknya menyerupai batangan emas sebagai simbol kemakmuran.
Di wilayah selatan, mi panjang umur dan ikan lebih umum disajikan. Dalam beberapa tradisi, pangsit bahkan diisi koin sebagai simbol keberuntungan bagi yang mendapatkannya.
Tradisi Membersihkan Rumah
Baik di Indonesia maupun Tiongkok, membersihkan rumah sebelum Imlek merupakan tradisi penting. Kegiatan ini diyakini sebagai cara menghilangkan energi negatif serta membuka jalan bagi datangnya keberuntungan di tahun yang baru. Tradisi ini mencerminkan nilai simbolis Imlek sebagai momen pembaruan diri dan lingkungan.
Imlek sebagai Identitas dan Simbol Toleransi
Di Tiongkok, Imlek berfungsi sebagai simbol identitas budaya nasional sekaligus perekat hubungan keluarga. Perayaan ini menyatukan masyarakat dalam satu momentum kolektif yang kuat.
Di Indonesia, Imlek memiliki makna ganda. Selain sebagai perayaan budaya Tionghoa, Imlek juga menjadi simbol toleransi dan keberagaman dalam kehidupan berbangsa. Perayaan yang kini terbuka dan meriah menunjukkan bagaimana tradisi dapat beradaptasi dan hidup berdampingan dalam masyarakat multikultural.
Perbedaan perayaan Tahun Baru Imlek di Indonesia dan Tiongkok tidak menghilangkan esensi utamanya sebagai momen kebersamaan, refleksi, dan pembaruan. Meski dirayakan dengan cara yang berbeda, Imlek tetap menjadi tradisi yang hidup, adaptif, dan sarat makna di kedua negara.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat




