Kasus Siswa SD Bunuh Diri di NTT, 3 Menteri Buka Suara
Rabu, 4 Februari 2026 | 11:15 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kasus tragis siswa Sekolah Dasar (SD) berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri karena diduga tidak mampu membeli buku dan pena seharga Rp 10.000, mendapat perhatian serius pemerintah. Tiga menteri menyampaikan sikap dan keprihatinan atas peristiwa yang mengguncang nurani publik tersebut.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan akan menyelidiki insiden tersebut. Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti saat dimintai tanggapan wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
“Nanti coba kita selidiki ya. Saya belum tahu informasinya,” kata Mu’ti.
Ia mengaku belum menerima laporan lengkap mengenai peristiwa tersebut. Meski demikian, Kemendikdasmen memastikan akan menelusuri latar belakang dan penyebab terjadinya tragedi itu.
“Saya belum tahu, nanti kita selidiki lagi ya penyebabnya apa dan sebagainya,” ujar Mu’ti singkat.
Mensos Tekankan Penguatan Data dan Pendampingan
Sementara itu, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden memilukan yang menimpa siswa SD di NTT tersebut. Mensos yang akrab disapa Gus Ipul menegaskan, kasus ini menjadi perhatian serius pemerintah, khususnya Kementerian Sosial.
“Kami prihatin, turut berduka. Tentu, ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, tentu bersama pemerintah daerah. Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita. Ya, kita harapkan tidak ada (keluarga miskin dan miskin ekstrem, red.) yang tidak terdata,” kata Gus Ipul.
Ia menekankan pentingnya penguatan basis data sosial agar seluruh keluarga yang membutuhkan perlindungan dan bantuan negara dapat terjangkau, terutama keluarga dalam kategori miskin ekstrem (desil-1) dan miskin (desil-2).
“Ini hal yang sangat penting. Saya kira kembali kepada data. Bagaimana data ini kita saksikan sebaik mungkin sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi, dan memerlukan pemberdayaan,” ujarnya.
Cak Imin: Harus Jadi Cambuk Keras
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menilai tragedi ini harus menjadi cambuk keras bagi semua pihak.
“Ya, ini harus menjadi cambuk ya,” ujar Cak Imin saat ditemui di kawasan Gambir, Jakarta, Selasa (3/2/2026) malam.
Menurutnya, peristiwa tersebut tidak bisa dilihat sebagai persoalan individu semata, melainkan mencerminkan persoalan sosial yang lebih luas. Ia menekankan pentingnya kepekaan sosial dan kehadiran negara dalam menjangkau masyarakat rentan.
“Kita juga harus cari akar masalah frustrasi sosial itu sudah sejauh mana,” katanya.
Surat Perpisahan yang Mengguncang Publik
Seperti diberitakan sebelumnya, korban mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya yang berinisial MGT (47).
Dalam surat tersebut, korban menuliskan, "Surat buat Mama. Mama saya pergi dahulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya Mama. Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya. Selamat tinggal Mama."
Korban diketahui tinggal bersama neneknya, sementara sang ibu merupakan orang tua tunggal yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima orang anak.
Kasus ini kembali menyoroti persoalan kemiskinan, akses pendidikan dasar, serta pentingnya kehadiran negara dalam melindungi anak-anak dari keluarga rentan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Revitalisasi Alun-alun Kota Serang Ditargetkan Rampung Desember 2026




