Keluarga Siswa SD Bunuh Diri di NTT Ternyata Luput dari Bansos Pemerintah
Rabu, 4 Februari 2026 | 11:50 WIB
Bajawa, Beritasatu.com - Kepergian YB siswa kelas IV sekolah dasar yang tewas secara tragis akibat tak bisa membeli buku dan alat tulis di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menyisakan potret getir tentang kehidupan anak di tengah keterbatasan dan daerah terpencil di Indonesia.
Bocah itu tumbuh dalam kondisi keluarga rentan, tanpa pendampingan orang tua yang utuh dan jauh dari jangkauan bantuan sosial pemerintah.
YB diduga telah ditinggalkan ayahnya sejak masih dalam kandungan. Sejak itu, ibunya harus menjalani peran ganda sebagai orang tua tunggal. Untuk menyambung hidup, sang ibu bekerja serabutan di kebun, bahkan sejak masa kehamilan hingga YB tumbuh besar.
Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas berdampak langsung pada pengasuhan dan pendidikan anak-anak. Dari lima bersaudara, hanya dua anak yang tercatat sempat menikmati pendidikan formal secara berkelanjutan. Selebihnya putus sekolah di tengah jalan karena keterbatasan biaya dan pendampingan.
“Kami selalu berusaha penuhi (kebutuhan) semampu kami,” tutur sang nenek lirih, Selasa (3/2/2026).
Ironisnya, berdasarkan keterangan warga dan penelusuran lapangan, keluarga YB tercatat luput dari berbagai program bantuan pemerintah. Mereka tidak terdata sebagai penerima bantuan rumah layak huni, bantuan pendidikan, maupun bantuan sosial lainnya.
Dalam kesehariannya, YB hidup berpindah antara rumah ibunya dan pondok sederhana tempat neneknya tinggal. Lingkungan hidup yang terpencil, keterbatasan ekonomi, serta minimnya dukungan sosial membuat kehidupan bocah itu berjalan dalam sunyi.
Peristiwa meninggalnya YB kini menjadi perhatian aparat dan lembaga terkait. Polisi masih melakukan pendalaman untuk memastikan seluruh aspek yang melatarbelakangi peristiwa tersebut. Sejumlah pihak juga mendorong adanya pendampingan psikologis bagi keluarga yang ditinggalkan.
Kasus ini kembali menyoroti pentingnya akurasi data kemiskinan dan perlindungan anak. Tanpa kehadiran negara yang tepat sasaran, anak-anak dalam kondisi rentan berisiko tumbuh tanpa perlindungan yang memadai.
Catatan redaksi: Jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami tekanan psikologis berat atau membutuhkan bantuan, segera hubungi layanan kesehatan terdekat atau pihak berwenang. Dukungan selalu tersedia dan penting untuk dicari lebih awal.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Revitalisasi Alun-alun Kota Serang Ditargetkan Rampung Desember 2026




