ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

NGO Nilai MBG Lebih Dibutuhkan di Daerah 3T

Kamis, 23 April 2026 | 05:00 WIB
TP
DM
Penulis: Teguh Adi Prasetyo | Editor: DM
Program makan bergizi gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto di Kabupaten Lebak, Banten, tengah menjadi sorotan publik. Sejumlah warga dan orang tua siswa menilai kualitas menu, takaran porsi, hingga nominal harga yang dicantumkan belum sebanding dengan sajian yang diterima keluarga penerima manfaat (KPM).
Program makan bergizi gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto di Kabupaten Lebak, Banten, tengah menjadi sorotan publik. Sejumlah warga dan orang tua siswa menilai kualitas menu, takaran porsi, hingga nominal harga yang dicantumkan belum sebanding dengan sajian yang diterima keluarga penerima manfaat (KPM). (Beritasatu.com/Budiman)

Jakarta, Beritasatu.com - Plan Indonesia menilai program makan bergizi gratis (MBG) perlu lebih tepat sasaran, khususnya bagi anak-anak yang mengalami kekurangan gizi di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, menegaskan pentingnya fokus program pada daerah yang benar-benar membutuhkan, terutama yang memiliki angka stunting tinggi.

“Sekarang kita targeted ke anak-anak yang memang kekurangan gizi. Harapannya program ini benar-benar menyasar daerah yang membutuhkan,” ujar Dini kepada Berirasatu.com di Jakarta Selatan, Rabu (22/4/2026).

ADVERTISEMENT

Menurutnya, selama ini Plan Indonesia banyak beroperasi di wilayah 3T yang masih menghadapi persoalan serius terkait stunting. Ia menyebut, prevalensi stunting di wilayah tersebut cenderung lebih tinggi dibandingkan daerah di Pulau Jawa yang relatif lebih maju.

“Kami bekerja di daerah 3T, yaitu prevalensi stunting masih tinggi dibandingkan daerah lain, terutama di Jawa,” jelasnya.

Dini menambahkan, tantangan di wilayah 3T tidak hanya terkait pemenuhan gizi, tetapi juga menyangkut persoalan mendasar, seperti sanitasi dan akses air bersih. Kedua faktor ini dinilai menjadi penghambat utama dalam upaya penurunan angka stunting.

“Masalah sanitasi dan akses air bersih masih menjadi kendala besar. Padahal daerah-daerah ini sangat membutuhkan program seperti MBG,” ungkapnya.

Meski demikian, ia menilai masih ada ruang untuk memperbaiki implementasi program MBG sebagai program nasional. Dini berharap program tersebut tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat lokal.

“Belum terlambat untuk memperbaiki program ini. Harapannya, MBG tidak hanya memenuhi gizi anak, tetapi juga mendorong pengembangan ekonomi lokal, terutama sektor pertanian,” pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Ribuan Warga Malang Teken Petisi Dukung MBG untuk 82 Juta Orang

Ribuan Warga Malang Teken Petisi Dukung MBG untuk 82 Juta Orang

JAWA TIMUR
Dukung MBG, Relawan DIY Ajak Publik Awasi agar Bebas Korupsi

Dukung MBG, Relawan DIY Ajak Publik Awasi agar Bebas Korupsi

NUSANTARA
KPK Tegaskan Tak Akan Ambil Alih Kasus Korupsi MBG dari Kejagung

KPK Tegaskan Tak Akan Ambil Alih Kasus Korupsi MBG dari Kejagung

NASIONAL
Karut-marut Program MBG

Karut-marut Program MBG

B-PLUS
Sony Tuding Pejabat BGN Samarkan Kepemilikan SPPG

Sony Tuding Pejabat BGN Samarkan Kepemilikan SPPG

NASIONAL
Demo di Jakarta, Massa Tani Merdeka Serukan Dukung Program Prabowo

Demo di Jakarta, Massa Tani Merdeka Serukan Dukung Program Prabowo

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon