DPR Dorong Lembaga Penyiaran Publik Bangun Narasi Kebangsaan
Rabu, 25 Agustus 2021 | 16:59 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – DPR mendorong lembaga penyiaran publik (LPP) membangun narasi kebangsaan. Sebab, LPP memiliki peran penting untuk menjernihkan informasi di ruang publik. Selain itu juga dalam rangka mencerdaskan bangsa.
Demikian disampaikan Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR Willy Aditya dalam peluncuran buku berjudul "Atas Nama Publik: Transformasi Lembaga Penyiaran Publik Sebagai Media Layanan Publik Multiplatform" sekaligus diskusi bertajuk "Dekrit Pencerdasan Bangsa" di Media Center DPR, Jakarta, Rabu (28/5/2021).
"Saya dukung buku ini, tetapi dia harus jadi movement atau gerakan. Kita bangun bersama narasi kebangsaan. Untuk menjernihkan informasi maupun mencerdaskan bangsa," kata politikus Partai Nasdem tersebut.
Menurut Willy, Indonesia merupakan negara besar yang terdiri atas beragam suku, agama, adat istiadat, dan budaya. Willy menyatakan sudah menjadi tugas LPP untuk menyiarkan narasi kebangsaan yang menyatukan.
Buku itu ditulis Anggota Dewan Pengawas (Dewas) RRI Freddy Ndolu. Selain Willy dan Freddy, hadir sejumlah narasumber dalam acara tersebut, yakni Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Muklis Basri, Anggota Dewan Pers Asep Setiawan, dan pakar hukum tata negara Margarito Kamis. Bertindak sebagai moderator jurnalis senior Erwin Syahfutra Siregar.
Pada kesempatan itu, Muklis menyambut baik kehadiran buku tersebut. Namun, Muklis berpesan agar sebelum mendorong dekret pencerdasan bangsa, perlu seluruh komponen membenahi LPP, khususnya RRI secara internal.
"Pesan saya kepada seluruh LPP RRI, benahi dulu internal, jangan ribut pada momentum tertentu saja," ujar Muklis.
Sementara itu, Asep mendukung LPP RRI bertransformasi menjadi media layanan publik multiplatform. Namun, menurut Asep, cara menyampaikan informasi saat ini tentu perlu mengikuti tuntutan zaman.
"Substansi jurnalistik dengan menyampaikan informasi melalui media massa tidak akan pernah berubah. Membangun Indonesia, tetapi teknologi untuk men-deliver news berubah, kita sekarang menulis pakai gadget. Jadi substansi tidak berubah, hanya caranya berubah," ujar Asep.
Margarito turut memberikan masukan, yakni RRI harus berani berbicara berbeda dengan pemerintah. "Buku ini secercah harapan jika tidak bisa mengubah dunia, paling tidak Indonesia, di titik inilah saya mencoba mengapresasi lahirnya buku ini," kata Margarito.
Freddy mengatakan buku yang ditulisnya merupakan pemacu semangat untuk seluruh jurnalis di Tanah Air dapat terus berkarya. Sebab, menurut Freddy, peran jurnalis sangat penting, yakni sebagai penjaga demokrasi.
"RRI sekali lagi jangan dilihat sebagai radio lagi, karena semua sudah terkorvengensi. Ini semacam provokasi pemikiran, wartawan tugasnya mengedukasi dan menginformasikan. Saya kira negara perlu memberikan satu payung hukum tegas berbentuk dekret pencerdasan bangsa," kata Freddy.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




