Toko di Pasar Senen Tutup, Pelaku Thrift Desak Pemerintah Cari Solusi
Minggu, 9 November 2025 | 16:25 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Dampak larangan impor pakaian bekas kini mulai terasa bagi pelaku usaha thrifting di berbagai daerah. Tidak hanya pedagang pakaian yang terpukul, tetapi juga ekosistem ekonomi kecil di sekitar mereka ikut merasakan imbasnya.
Kondisi ini terlihat jelas di Pasar Senen, Jakarta, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat penjualan pakaian bekas terbesar di ibu kota.
Pelaku usaha thrifting dan pemilik J Store, Alvin Jovendri, mengungkapkan banyak pedagang kehilangan mata pencaharian sejak aktivitas jual beli pakaian bekas dibatasi pemerintah. Menurutnya, kebijakan pelarangan tanpa solusi alternatif membuat banyak pelaku kecil kesulitan mencari penghasilan baru.
“Sekarang banyak toko di Senen tutup. Penjual makanan juga kena imbas, parkiran kosong. Kasihan juga mereka karena kehilangan nafkah,” ujar Alvin saat ditemui pada acara Urban Sneaker Society (USS) 2025 di JICC Senayan, Jakarta, Minggu (9/11/2025).
Alvin menilai pemerintah perlu membedakan antara thrifting lokal dan impor ilegal balpres (bale press). Ia beralasan, tidak semua pelaku usaha menjual barang dari luar negeri. Banyak yang menjalankan bisnis hanger to hanger, yaitu menjual pakaian bekas milik teman, komunitas, atau pelanggan lokal sebagai bagian dari ekonomi sirkular.
“Tolong jangan semua disamaratakan. Kalau mau ada aturan atau pajak, kita siap duduk bareng. Namun, jangan langsung dilarang,” tegasnya.
Alvin menegaskan, pelaku thrifting tidak menolak upaya pemerintah menertibkan barang impor ilegal. Namun mereka berharap ada mekanisme legal yang memberi ruang bagi pelaku kecil untuk tetap bertahan.
“Kalau yang ilegal tentu kita setuju dihapus. Namun, carikan solusi supaya bisa legal, biar teman-teman enggak kehilangan mata pencaharian,” imbuhnya.
Larangan impor pakaian bekas yang diterapkan pemerintah awalnya ditujukan untuk melindungi industri tekstil dalam negeri. Namun, bagi banyak pelaku thrifting, kebijakan tersebut justru menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang besar.
Mereka berharap pemerintah dapat menghadirkan aturan transisi yang adil dan realistis, agar semangat ekonomi kreatif dan sirkular yang telah tumbuh di kalangan anak muda tidak ikut padam.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




