Invasi Truk China Ancam Industri Lokal dan Target NZE
Rabu, 30 Juli 2025 | 23:10 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Masuknya truk asal China secara besar-besaran ke pasar Indonesia memicu persaingan tidak sehat di sektor kendaraan niaga, khususnya untuk kebutuhan pertambangan. Selain menekan industri lokal, kehadiran truk asal negeri tirai bambu itu juga berpotensi menghambat target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2026.
Wakil Sekjen Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Agus Pratiknyo mengatakan, truk asal China saat ini membanjiri pasar kendaraan niaga dalam negeri. Selain menawarkan harga lebih murah, truk-truk tersebut tetap memiliki kualitas yang bersaing, sehingga menarik minat banyak pelaku usaha.
"China mampu menjual truk dengan harga miring karena peredarannya sudah sangat masif di Indonesia. Bukan hanya merek FAW dan Dongfeng, berbagai merk truk asal China sudah melimpah di sini," ujar Agus kepada Beritasatu.com, Rabu (30/7/2025).
Menurut Agus, sebagian besar truk China masuk dalam bentuk completely built up (CBU), yakni unit utuh dari negara asal tanpa memenuhi aturan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Hal ini menyebabkan harga jual truk China jauh lebih murah dibandingkan merek lain yang harus memenuhi aturan TKDN.
"Hino dan Isuzu harus menelan pil pahit karena mendorong adanya TKDN. Harus menggunakan komponen dalam negeri, tapi harus melewati alur birokrasi yang di situ semuanya keluar biaya," tambah Agus.
Ia menjelaskan bahwa truk China yang masuk ke Indonesia mayoritas berjenis dump truck yang diperuntukkan bagi sektor pertambangan. Sementara merek seperti Hino dan Isuzu mengimpor dalam bentuk terurai (CKD), dirakit di dalam negeri, dan menggunakan komponen lokal.
Kondisi ini membuat pengusaha truk di dalam negeri beralih ke truk asal China karena harganya lebih terjangkau dengan kualitas yang dianggap layak. Meski demikian, Agus menilai pemerintah perlu membuat aturan yang adil bagi semua pelaku industri.
"Sekarang tinggal pemerintah mengatur keberadaan truk asal China, tapi jangan sampai juga mematikan bisnis mereka. Teman-teman seperti Isuzu, Hino ini juga mesti diperhatikan karena mereka sudah terlanjur investasi di Indonesia," imbuhnya.
Lebih jauh, Agus mengingatkan bahwa maraknya truk asal China juga bisa menghambat komitmen Indonesia mencapai net zero emission. Pasalnya, sebagian besar truk asal China masih menggunakan standar emisi Euro 2, sementara Indonesia telah mewajibkan standar Euro 4 sejak 12 April 2022 berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2017.
Aptrindo, kata Agus, mendukung penuh langkah pemerintah untuk memastikan kendaraan yang beredar memiliki spesifikasi emisi minimal Euro 4 demi menekan pencemaran udara.
Ia juga menilai bahwa murahnya harga truk China kemungkinan disebabkan karena teknologi yang digunakan masih sederhana. Sebaliknya, kendaraan dengan standar Euro 4 ke atas membutuhkan biaya lebih tinggi dalam hal perawatan, suku cadang khusus, dan pelatihan mekanik.
"Truk Euro 4 ke atas rata-rata sudah menggunakan electronic control unit (ECU). Jadi karena teknologinya semakin canggih, otomatis spare part-nya pun agak berbeda yang membuat biaya jauh melebihi kendaraan di bawah standar Euro 4," pungkas Agus.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




