Ketika Hubungan Trump dan Netanyahu Diuji di Tengah Perang Iran
Minggu, 22 Maret 2026 | 05:55 WIB
Washington, Beritasatu.com – Hubungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tengah diuji pada peranga Iran kali ini.
Pasalnya, Trump kerap menyampaikan pernyataan yang saling bertolak belakang terkait serangan Israel ke fasilitas gas terbesar Iran dalam satu hari yang sama.
Pernyataan pertama disampaikan Trump melalui platform Truth Social setelah muncul laporan bahwa jet tempur Israel menyerang ladang gas South Pars milik Iran. “Kami membuat mereka tidak bisa beroperasi,” tulis Trump.
Namun beberapa jam kemudian, setelah Iran membalas dengan serangan ke Qatar, Trump mengubah sikapnya. Ia menegaskan bahwa AS tidak mengetahui serangan tersebut dan menyatakan tidak akan ada lagi serangan lanjutan oleh Israel ke fasilitas gas tersebut, kecuali Iran kembali menyerang.
Pernyataan yang berbeda ini menjadi yang kedua kalinya sejak dimulainya operasi militer gabungan AS-Israel terhadap Iran, di mana Washington secara terbuka mengambil jarak dari aksi militer Israel.
Sebelumnya, setelah Israel Defense Forces (IDF) menyerang depot bahan bakar di Teheran, laporan Axios mengungkap adanya perbedaan sikap antara kedua sekutu. Seorang penasihat Trump bahkan menyebut presiden “tidak menyukai serangan tersebut”.
Meski demikian, dua pejabat Israel mengatakan kepada CNN bahwa operasi militer tersebut tetap dikoordinasikan dengan AS. Salah satu sumber menyebut Gedung Putih kemungkinan terkejut dengan dampak serangan terhadap harga energi dan kerusakan lingkungan.
Dalam perkembangan terbaru, sumber Israel lainnya menyebut serangan ke fasilitas gas dilakukan dengan mempertimbangkan kekhawatiran Trump terhadap lonjakan harga energi, dengan membatasi target hanya pada infrastruktur gas dan listrik, bukan kilang minyak.
Namun, setelah Iran menyerang Qatar yang kembali memicu lonjakan harga energi, Trump tetap mengkritik langkah Israel.
“Saya sudah bilang jangan lakukan itu, dan mereka mengatakan tidak akan melakukannya. Kami berkoordinasi, tetapi terkadang mereka melakukan sesuatu dan jika saya tidak suka, maka itu tidak akan dilakukan,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Menanggapi hal itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kemudian menegaskan operasi tersebut dilakukan sepenuhnya oleh Israel tanpa keterlibatan langsung AS, serta menyebut Trump telah meminta Israel menahan serangan lanjutan.
Meski demikian, sejumlah pejabat Israel menyatakan serangan tersebut tidak mungkin dilakukan tanpa sepengetahuan AS. Bahkan seorang pejabat AS mengakui Washington mengetahui adanya rencana serangan tersebut.
Komando Pusat AS atau United States Central Command (Centcom) membantah keterlibatan langsung dalam operasi tersebut. Namun mantan duta besar AS untuk Israel, Dan Shapiro, menyebut hampir tidak mungkin Israel melakukan serangan tanpa memberikan informasi penuh kepada Centcom.
Sejumlah sumber juga menilai sikap Trump dipengaruhi oleh Qatar. Tekanan dari Doha disebut beberapa kali membuat Trump mengambil jarak dari tindakan Israel.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: Belanda Berpesta Gol ke Gawang Swedia di Houston




