ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Dari Penghancuran Total ke Gencatan, Apa yang Bikin Trump Berubah?

Rabu, 8 April 2026 | 23:44 WIB
WT
WT
Penulis: Wahyu Sahala Tua | Editor: WS
Perubahan sikap Donald Trump terhadap gencatan senjata Iran dipengaruhi tekanan mediator internasional dan risiko terjebak perang jangka panjang.
Perubahan sikap Donald Trump terhadap gencatan senjata Iran dipengaruhi tekanan mediator internasional dan risiko terjebak perang jangka panjang. (AP/AP)

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump termasuk sosok yang sulit diprediksi dalam merespons perang Iran. Pernyataan-pernyataannya kerap berubah dan membuat banyak orang geleng-geleng kepala. 

Terbaru, ia sesumbar ingin menghancurkan Iran total hingga peradabannya hilang. Uniknya, beberapa saat kemudian ia melunak dan setuju memberikan gencatan senjatan buat Iran. Ada apa dengan Donald Trump? 

AP, Rabu (8/4/2026) memberikan analisa yang cukup menarik terkait kondisi itu. Mereka mengatakan perubahan nada bicara yang sangat kontras ini tidak lepas dari peran mediator internasional, terutama Pakistan, yang bekerja keras mencegah eskalasi lebih lanjut. Bahkan Tiongkok, sebagai mitra dagang terbesar Iran sekaligus pesaing ekonomi utama Amerika, dilaporkan ikut bergerak di balik layar untuk mendorong terjadinya gencatan senjata. 

“Menurut sumber resmi, keterlibatan pihak luar ini menjadi kunci utama dalam melunakkan sikap keras Washington sesaat sebelum tenggat waktu serangan berakhir,” tulis AP.

ADVERTISEMENT

Disebutkan juga Trump mau tidak mau akhirnya terpaksa mendengar kritikan pihak luar mengingat pernyataannya yang ingin menghilangkan peradaban Iran dianggap keterlaluan.  Anggota legislatif dari Partai Demokrat menyebut ancaman tersebut sebagai "kegagalan moral," sementara Paus Leo XIV memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil adalah pelanggaran hukum internasional. 

Selain itu, Trump juga akhirnya mau berpikir ulang tentang strategi yang ia jalankan terhadap Iran. Banyak pihak menduga bahwa Trump akhirnya memilih mundur karena menyadari risiko terjebak dalam perang abadi (forever war) yang sangat ia hindari sejak masa kampanye.

Selain itu ada hal penting lainnya yang perlu dijaga yakni Selat Hormuz. Setelah putusan gencatan senjata, Trump dijadwalkan bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte. Fokus utama pertemuan mereka adalah rencana pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur perairan vital yang menyumbang sekitar 20% pasokan minyak dunia. 

Trump diketahui sangat geram terhadap negara-negara anggota NATO yang dianggap mengabaikan panggilannya untuk membantu mengamankan jalur tersebut, terutama saat harga gas melonjak tajam selama masa perang. Para analis pertahanan menilai bahwa meskipun militer AS mampu menguasai Selat Hormuz dengan cepat, mempertahankan keamanan di sana adalah operasi yang berisiko tinggi dan memakan biaya besar. 

Mengamankan jalur sepanjang 600 kilometer tersebut diperkirakan akan membutuhkan setidaknya 30.000 hingga 45.000 tentara infanteri AS. Operasi semacam ini bisa menjadi komitmen jangka panjang yang tak berujung, mirip dengan apa yang terjadi di Afghanistan atau Irak, yang sangat bertolak belakang dengan janji politik Trump.

Salah satu poin menarik dalam gencatan senjata dua minggu ini adalah kesepakatan yang memungkinkan Iran dan Oman untuk memungut biaya dari kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Dana hasil pungutan tersebut nantinya akan digunakan Iran untuk biaya rekonstruksi pascaperang. 

Kebijakan ini menuai kritik dari oposisi, seperti Senator Chris Murphy, yang menyebut pemberian izin pemungutan tol di perairan internasional tersebut sebagai "kemenangan bersejarah" yang diberikan Trump secara cuma-cuma kepada Iran.

Di tengah situasi yang masih rapuh ini, Wakil Presiden JD Vance memberikan catatan bahwa gencatan senjata tersebut adalah "perdamaian yang sangat rapuh." Vance, yang selama ini mendorong pengendalian diri dalam intervensi militer, menekankan bahwa keberhasilan kesepakatan ini sepenuhnya bergantung pada niat baik Iran dalam bernegosiasi. Trump sendiri mengisyaratkan bahwa tim negosiasinya, termasuk Jared Kushner, akan terus bekerja intensif selama periode 14 hari ini untuk mencari solusi perdamaian permanen di Timur Tengah.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz

Trump Larang Pungutan Biaya di Selat Hormuz

INTERNASIONAL
Boeing 747-8 Hadiah dari Qatar Jadi Armada Baru Perjalanan Dinas Trump

Boeing 747-8 Hadiah dari Qatar Jadi Armada Baru Perjalanan Dinas Trump

INTERNASIONAL
Alasan Trump Sebut Dirinya

Alasan Trump Sebut Dirinya "Bos" di Depan Pemimpin Dunia Saat KTT G7

INTERNASIONAL
Trump Jaga Netanyahu Tetap Waras di Lebanon

Trump Jaga Netanyahu Tetap Waras di Lebanon

INTERNASIONAL
Iran Umumkan Aturan Baru bagi Kapal yang Ingin Melintasi Selat Hormuz

Iran Umumkan Aturan Baru bagi Kapal yang Ingin Melintasi Selat Hormuz

INTERNASIONAL
Trump Klaim AS Diam-diam Loloskan 87 Kapal Tanker Lewati Selat Hormuz

Trump Klaim AS Diam-diam Loloskan 87 Kapal Tanker Lewati Selat Hormuz

INTERNASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon