Impresif, Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Diprediksi 5,85%
Kamis, 3 November 2022 | 10:56 WIB
Jakarta, Beritasatu.com- Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memprediksi, produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi di kisaran 5,77% hingga 5,85% secara year on year (yoy) pada kuartal III 2022 dan 5,35% sepanjang 2022. Pertumbuhan kuartal III 2022 itu makin impresif dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 5,44%, dibandingkan kuartal sama tahun lalu yang hanya 3,51%.
Selain karena performa surplus neraca perdangangan dan konsumsi domestik, pertumbuhan PDB kuartal III 2022 juga didorong oleh faktor low-base effect. "Dampak low-base effect dari kuartal III 2021 yang mencatatkan pertumbuhan positif PDB (produk domestik bruto) terendah selama periode Covid-19, yakni 3,51%, mendorong lonjakan pertumbuhan PDB di kuatal III 2022," ujar ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam keterangan tertulisnya, Kamis (3/11/2022).
Ia menyebutkan, perekonomian Indonesia terus tumbuh di atas ekspektasi, di antaranya pertumbuhan ekonomi sebesar 5,44% (yoy) di kuartal II 2022. Ini merupakan yang tertinggi kedua sejak 2013 dan hanya lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi sebesar 7,07% (yoy) di kuartal II 2021. Kondisi ini didorong oleh beberapa faktor yang berperan dalam tumbuh tingginya angka PDB Indonesia.
Pertama, momentum pemulihan ekonomi domestik masih terus berlanjut akibat relatif terlambatnya Indonesia dalam pemulihan aspek kesehatan sehingga Indonesia masih menikmati dampak low-base effect dan pent up demand selama kuartal II 2022. Faktor kedua adalah aspek musiman periode Ramadan dan Idulfitri yang jatuh di kuartal II tahun ini berkontribusi menopang tumbuhnya konsumsi masyarakat.
Dengan porsi mencapai 53% dari PDB, konsumsi rumah tangga tumbuh hingga 5,51% (yoy) di kuartal II 2022, melonjak dari 4,34% (yoy) di kuartal sebelumnya. Sedangkan faktor ketiga yang membuat pemulihan ekonomi domestik masih terus berlanjut adalah lonjakan harga komoditas akibat tereskalasinya tensi geopolitik dan berlanjutnya pemulihan ekonomi global. Ini menguntungkan Indonesia sebaga net eksportir komoditas energi utama, seperti batubara dan CPO.
Lebih lanjut ia mengatakan bahwa permintaan domestik yang solid dan performa ekspor yang baik mampu memberi tambahan pertumbuhan ekonomi Indonesia di sisa tahun 2022. "Faktor-faktor inilah yang membuat perekonomian Indonesia masih memiliki potensi untuk tumbuh di atas 5% di sisa tahun 2022," papar Riefky.
Muncul Tantangan
Sedangkan pada paruh kedua 2022, ia menambahkan, muncul berbagai tantangan perekonomian yang belum terlihat selama semester I 2022. Pelanjutan pengetatan suku bunga moneter oleh berbagai bank sentral dunia telah memicu arus modal keluar secara masif dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Ini menyebabkan depresiasi dari berbagai mata uang. Ditambah dengan naiknya harga komoditas global dan kebijakan harga bahan bakan minyak (BBM) oleh pemerintah Indonesia. Depresiasi rupiah mendorong laju inflasi mencapai titik tertingginya dalam tujuh tahun terakhir," pungkas Riefky.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Dalami Nilai Investasi PPT ET, KPK Periksa Dirut PT CEP
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Arjuna, Sapi Berbobot 1,18 Ton Asal Palembang Jadi Kurban Prabowo




