Cerita Ratu Tisha, Orang Indonesia Pertama yang Ikut Program FIFA Master
Jumat, 17 Oktober 2014 | 21:32 WIBJakarta - Dengan status co-founder Labbola, layanan statistik data sepak bola, dan baru saja pulang menuntut ilmu dari Eropa selama 10 bulan, Ratu Tisha bercerita soal pendidikan FIFA Master yang belum lama selesai dijalaninya.
"Jadi, untuk apply (melamar) program FIFA Master ini memang nggak mudah. Saya sudah apply (melamar) dua kali. Yang pertama itu tahun 2011, nggak keterima. Akhirnya saya pergi dulu submit Football Conference and Science di Nagoya, Jepang. Lalu 2012 ikut World Soccer Science di Belgia. Saya membangun portofolio dulu untuk meyakinkan mereka, wah beneran ini membangun Labbola," ucap Tisha dalam perbincangan di restoran di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (16/10).
"Interviunya dua kali via Skype, esai yang harus dikerjakan ada 17. Kaya misalnya tentang olahraga, apa pendapat kamu tentang olahraga. Olahraganya dikupas habis, kalau atlet muda udah digaji, setuju atau enggak. Kalau digaji berapa kira-kira gap-nya untuk melindungi sisi olahraganya. Ada juga, youth development (pembinaan usia muda) gimana pendapatnya. Lalu gimana sekarang olahraga udah jadi bisnis, batasannya sampai mana," tuturnya.
Tidak mudah mengerjakan esai sebanyak itu. Tapi hasilnya tidak sia-sia. Ia lolos dan menjadi orang Indonesia pertama yang berhasil melakukannya.
Program FIFA Master sepenuhnya disponsori oleh FIFA sebagai bagian mengembalikan 90 persen keuntungan yang didapat federasi sepak bola internasional itu untuk pengembangan sepak bola. Ada tiga universitas yang digandeng: De Montfort University (Leicester, Inggris), SDA Bocconi (Milan, Italia), dan Universite de Neuchatel (Neuchatel, Swiss).
Di SDA Bocconi, para mahasiswa belajar manajemen olahraga. Lalu di De Montfort belajar sport humanity, dan belajar hukum di Neuchatel.
"Jadi tiap minggu itu kami ada field trip. Misal ke klub Manchester City, Arsenal, Manchester United, lapangan kriket. Waktu di Milan ke Ferrari, Ducati, sempat juga lihat gimana klub voli kecil bisa mandiri, profitable, padahal kaya cuma klub lokal. Lebih kecil dari Subang, bisa jadi ya. Klub volinya itu di daerah terpencil, tapi mereka bisa mandiri, profitable, dengan gimana running marketing. Padahal pasarnya juga terbatas karena di Italia sepak bola masih nomor satu ya," Tisha bercerita.
Ia menjelaskan bagaimana klub voli kecil itu, namanya Vero Volley, bisa berjalan mandiri. Salah satu cara adalah dengan membikin program kerja sama dengan sekolah, menyewakan stadion, juga program sumbangan sosial.
Tisha mempelajari empat hal inti dalam pengelolaan olahraga: nilai olahraga, nilai budaya, aspek sosial, dan yang terakhir aspek bisnis.
Pertama, nilai olahraga yang disentuh dengan membangun tim kuat sebagai aktor bisa menggugah masyarakat. Kedua, nilai budaya.
"Culture value, kalau mau generate sesuatu lihat kebiasaan masuknya lewat mana. Misalnya kebiasaan di Inggris itu sukanya yang tenang, orangnya nggak terlalu ekspresif, maka dibuatlah Wimbledon yang semua petenis pakai baju putih karena orangnya emang nggak suka yang neko-neko. Lihat saja sampai sekarang itu jadi trademark dan identitas," ia menjelaskan.
"Ketiga, mereka merhatiin social aspect. Jadi setiap gerakan yang dibuat selalu bekerja sama dengan sekolah, biar bisa menyebar ke sekolah, biar partisipasi lewat sekolah. Kalau di kita yang profesional sama yang partisipan di sekolah kan emang nggak bicara ya. Kalau di klub kan emang orang yang terpilih, pada akhirnya kita bukan mengolahragakan masyarakat," sambungnya.
Terakhir, yaitu aspek bisnis. Sewaktu menuntut ilmu di Eropa, Tisha melihat sudah adanya kesadaran untuk menghasilkan pendapatan di luar tiga sumber utama: tiket, sponsor, dan hak siar televisi. Banyak yang kini sudah merancang sumber lain yaitu penjualan digital. Ada target pendapatan reguler setiap bulannya, terlepas hasil yang diraih tim.
"Entah subscription basis untuk jersey, entah acara fan gathering yang nanti balik untuk membership, atau seperti Arsenal yang punya uang lalu investasi di properti, bikin apartemen di bekas (stadion) Highbury. Kalau (Manchester) City dia bikin fashion line brand yang jadi nomor tiga di Jepang yang bersaing dengan fashion line lain. Jadi mereka juga berpikir cara lain, nggak cuma tiga tadi karena tiga tadi (tiket, sponsor, dan hak siar TV) kan sangat berkaitan dengan kemenangan,"
Di De Montfort, Tisha belajar tentang sport humanity dan sejarah. Ia kemudian paham bahwa olahraga dan politik adalah bagian tak terpisahkan. Meminta sepak bola, misalnya, tidak dipolitisasi hampir sama seperti meminta orang Indonesia jangan makan nasi, menurutnya.
Ia menceritakan asal mula munculnya senam. Olahraga ini bisa dibilang gerakan politik orang Jerman untuk mengalahkan Napoleon Bonaparte. Mereka mempersiapkan fisik dan mental lewat gerakan-gerakan senam untuk melawan invasi pasukan Napoleon.
Terakhir, di Neuchatel ia belajar tentang hukum seperti aspek legal sektor swasta, status legal individu olahraga, aspek legal olahraga dan kesehatan, hukum olahraga, laporan ke organisasi yang tingkatnya lebih atas, juga soal penyelesaian perselisihan.
Usai mengikuti program ini, FIFA berharap Tisha dan 27 teman seangkatannya akan kembali ke negara masing-masing untuk berkontribusi mengembangkan olahraga. Tisha sudah tahu apa yang ingin dia lakukan dan saat ini sedang merintis jalan ke sana.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Bareskrim Bongkar Peredaran 14.580 Ekstasi Jaringan Lintas Daerah




