Ramai-ramai Beri Tanggapan Penurunan Outlook Moody’s
Jumat, 6 Februari 2026 | 18:03 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Keputusan Moody’s Investors Service menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif memicu perhatian pelaku pasar, tetapi pemerintah dan otoritas moneter menegaskan kondisi tersebut tidak mencerminkan pelemahan mendasar perekonomian nasional.
Di tengah dinamika global yang meningkat, berbagai indikator makro dinilai masih menunjukkan ketahanan ekonomi domestik. Moody’s tetap mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level Baa2, satu tingkat di atas batas investment grade.
Lembaga tersebut menilai fondasi ekonomi Indonesia masih ditopang pertumbuhan yang relatif stabil serta kekuatan struktural, seperti ketersediaan sumber daya alam dan struktur demografi yang mendukung. Kredibilitas kebijakan moneter dan kehati-hatian fiskal juga dinilai masih menjadi jangkar stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Namun, perubahan outlook menjadi negatif dikaitkan dengan meningkatnya risiko ketidakpastian kebijakan yang, menurut pandangan Moody’s, berpotensi memengaruhi kinerja ekonomi jika berlangsung dalam jangka panjang.
Pada sisi lain, lembaga pemeringkat itu tetap memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5% dalam jangka pendek hingga menengah, dengan defisit fiskal diperkirakan terjaga di bawah 3% produk domestik bruto (PDB) serta rasio utang pemerintah yang relatif rendah dibandingkan negara dengan peringkat sejenis.
Tantangan yang masih dicatat adalah perlunya perluasan basis penerimaan negara, meski upaya peningkatan efisiensi administrasi perpajakan dan kepabeanan diapresiasi.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai penyesuaian outlook tersebut tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi. Ia menegaskan perekonomian Indonesia tetap solid di tengah gejolak global. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 tercatat 5,39%, sehingga sepanjang 2025 ekonomi tumbuh sekitar 5,1%.
“Penyesuaian outlook negatif tidak mencerminkan pelemahan fundamental. Stabilitas makro tetap terjaga,” ujar Perry di Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Inflasi, lanjutnya, berada pada level 2,92% dan masih dalam rentang sasaran, sementara stabilitas nilai tukar rupiah terus diperkuat melalui kebijakan BI. Sistem keuangan juga dinilai kokoh berkat likuiditas memadai, permodalan perbankan yang kuat, serta risiko kredit yang terkendali. Perry menambahkan, digitalisasi sistem pembayaran dan infrastruktur yang andal turut menopang aktivitas ekonomi.
Ke depan, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2026 berada di kisaran 4,9%–5,7% dan meningkat lagi pada 2027 menjadi 5,1%–5,9%, dengan inflasi tetap terkendali. BI menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan dan sinergi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) guna menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan berkelanjutan.
Nada optimistis juga disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menilai penilaian Moody’s belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan terbaru pada kinerja ekonomi Indonesia.
“Ekonomi kita sudah berbalik arah, lebih cepat daripada sebelumnya. Ke depan akan membaik juga. Nanti Moody’s akan melihat apa yang ada di sini dengan lebih fair,” kata Purbaya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




