Harga Minyak Dunia Tertahan pada US$ 67,78 Per Barel
Senin, 16 Februari 2026 | 12:54 WIB
New Delhi, Beritasatu.com – Harga minyak dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Senin (16/2/2026), seiring pelaku pasar mencermati rencana perundingan antara Amerika Serikat dan Iran untuk meredakan ketegangan.
Harga minyak mentah Brent naik tipis 3 sen menjadi US$ 67,78 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 2 sen ke level US$ 62,91 per barel. Tidak ada penyelesaian kontrak WTI pada hari ini karena libur nasional di Amerika Serikat.
Sepanjang pekan lalu, kedua acuan mencatat pelemahan mingguan. Brent turun sekitar 0,5%, sedangkan WTI merosot 1%. Tekanan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington berpeluang mencapai kesepakatan dengan Teheran dalam waktu satu bulan.
Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan menggelar putaran kedua perundingan di Jenewa pada Selasa (17/2/2026), setelah sebelumnya kembali membuka negosiasi awal bulan ini. Pembicaraan tersebut bertujuan menyelesaikan sengketa panjang terkait program nuklir Iran serta mencegah potensi konfrontasi militer baru.
Seorang diplomat Iran menyebut negaranya tengah mengupayakan kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi kedua pihak, termasuk peluang investasi di sektor energi dan pertambangan serta pembelian pesawat.
Analis pasar IG Tony Sycamore menilai peluang tercapainya kesepakatan masih rendah karena kedua pihak diperkirakan tetap mempertahankan posisi utama masing-masing.
“Dengan kedua belah pihak diperkirakan bertahan pada garis merah utama mereka, ekspektasi tercapainya kesepakatan cukup rendah dan situasi ini kemungkinan menjadi ketenangan sebelum gejolak,” ujarnya.
Aktivitas pasar keuangan global diperkirakan terbatas karena sejumlah negara seperti China, Korea Selatan, dan Taiwan masih libur Tahun Baru Imlek, selain libur Hari Presiden di Amerika Serikat.
Pendiri SS WealthStreet Sugandha Sachdeva mengatakan, minimnya sinyal permintaan dari China membuat likuiditas pasar tetap tipis sehingga pergerakan harga berpotensi tidak stabil.
Dalam jangka pendek, perkembangan geopolitik dan data persediaan minyak akan tetap menjadi faktor utama volatilitas, sehingga harga minyak mentah berpotensi bergerak tajam ke dua arah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Harga Emas Dunia Tertekan Imbas Data Tenaga Kerja AS yang Kuat




