Iran: Indonesia Tak Perlu Takut Tarif AS
Sabtu, 14 Februari 2026 | 21:23 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi meminta Indonesia tidak khawatir menghadapi ancaman tarif Amerika Serikat (AS) terhadap negara-negara yang masih menjalin hubungan dagang dengan Iran.
Boroujerdi menegaskan, hubungan bilateral Indonesia dan Iran tetap menguntungkan meskipun ada tekanan dari AS.
"Kami sampaikan kepada Indonesia untuk tidak takut. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Perusahaan mana pun dan negara mana pun yang memiliki hubungan reguler dengan Iran, mereka akan mendapatkan banyak keuntungan," kata Dubes Boroujerdi, dikutip dari Antara, Sabtu (14/2/2026).
Sebelumnya, Presiden Donald Trump pada Januari 2026 mengumumkan pemberlakuan tarif sebesar 25% terhadap semua negara yang masih berdagang dengan Iran.
Menanggapi kebijakan tersebut, Boroujerdi menyebut saat ini terdapat lebih dari 100 negara yang memiliki hubungan ekonomi dengan Iran dan tidak mengalami persoalan akibat pernyataan AS.
"Semua negara merdeka percaya bahwa Amerika Serikat bukanlah raja dunia. Mereka tidak dapat mendikte aturan mereka kepada negara-negara merdeka, seperti Indonesia," katanya.
Ia mengakui sanksi dan tarif dari AS memang menimbulkan sejumlah tantangan bagi Iran. Namun, menurutnya, kondisi tersebut bukan hal baru bagi negaranya.
Selama lebih dari 47 tahun, Iran telah menghadapi berbagai sanksi ekonomi dari AS. Meski demikian, Boroujerdi mengeklaim negaranya tetap mampu berkembang di berbagai sektor.
"Anda dapat membandingkan Iran saat ini dengan Iran 75 atau 76 tahun yang lalu. Anda dapat melihat bahwa segala hal di bidang pendidikan, teknologi, ekonomi, semuanya telah berkembang pesat," katanya.
Boroujerdi juga mendorong negara-negara, termasuk Indonesia, untuk terus memperluas kerja sama ekonomi dengan Iran, baik secara bilateral maupun multilateral.
Ia mengakui dalam 1 hingga 2 tahun terakhir, dinamika perdagangan global turut memengaruhi perekonomian banyak negara akibat ancaman tarif dan berbagai tantangan lainnya.
Namun, menurutnya, negara-negara merdeka, seperti Indonesia dan Iran perlu menjaga serta meningkatkan kerja sama agar dampak tekanan ekonomi global tidak semakin memburuk.
"Jadi, jika mereka ingin melewati era sulit ini, mereka harus memperluas kerja sama antara kedua negara, baik secara bilateral dan multilateral, dan menunjukkan kepada AS bahwa mereka tidak dapat mendikte aturan mereka kepada seluruh dunia," katanya.
"Mereka adalah satu negara, mereka dapat bekerja sama dengan negara lain, dan tidak ada masalah dengan itu, tetapi mereka tidak dapat membuat peraturan untuk dunia modern saat ini," demikian kata Dubes Boroujerdi menambahkan.
Isu tarif AS terhadap Iran diperkirakan masih akan menjadi dinamika penting dalam hubungan perdagangan internasional, termasuk bagi negara-negara mitra seperti Indonesia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Isu Politik-Hukum: Identitas Tersangka Penyiram Air Keras Andrie Yunus




