ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Siswa SD Bunuh Diri di NTT, Menko PM: Jadi Cambuk Keras

Rabu, 4 Februari 2026 | 10:47 WIB
HH
HH
Penulis: Harumbi Prastya Hidayahningrum | Editor: HP
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin (Antara/Raisan Al Farisi)

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin menilai kasus meninggalnya seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus menjadi cambuk keras bagi semua pihak. Anak tersebut diduga mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli buku dan pena seharga Rp 10.000.

“Ya, ini harus menjadi cambuk ya,” ujar pria yang akrab disapa Cak Imin saat ditemui di kawasan Gambir, Jakarta, Selasa (3/2/2026) malam.

Menurut Cak Imin, tragedi tersebut tidak bisa dilihat sebagai persoalan individu semata, melainkan mencerminkan persoalan sosial yang lebih luas. Ia menekankan pentingnya kepekaan sosial dan kehadiran negara dalam menjangkau masyarakat rentan, terutama anak-anak dari keluarga miskin.

ADVERTISEMENT

Cak Imin menilai kasus siswa SD yang bunuh diri di NTT tersebut harus menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah, aparat desa, sekolah, dan lingkungan sekitar, agar lebih terbuka dan mudah dimintai pertolongan oleh siapa pun yang mengalami kesulitan.

“Kita juga harus cari akar masalah frustrasi sosial itu sudah sejauh mana,” katanya.

Ia menambahkan, tekanan ekonomi yang dialami keluarga miskin kerap berdampak langsung pada kondisi psikologis anak. Oleh karena itu, negara perlu memastikan sistem perlindungan sosial dan pendidikan benar-benar menjangkau kelompok paling rentan.

Seperti diberitakan sebelumnya, seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya yang berinisial MGT (47). Surat tersebut ditulis dengan sederhana, tetapi sarat pesan perpisahan yang menyayat hati.

Korban diketahui tinggal bersama neneknya. Sementara itu, sang ibu yang merupakan orang tua tunggal bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi keluarganya. Ia harus mengurusi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.

Keterbatasan ekonomi membuat keluarga tersebut kesulitan memenuhi kebutuhan dasar pendidikan, termasuk perlengkapan sekolah. Kondisi inilah yang kemudian diduga menjadi salah satu faktor tekanan psikologis yang dialami korban.

Kasus ini kembali menyoroti persoalan kemiskinan struktural, akses pendidikan dasar, serta lemahnya sistem deteksi dini terhadap anak-anak yang mengalami tekanan sosial dan ekonomi. Cak Imin menegaskan, negara tidak boleh abai terhadap kondisi seperti ini.

Tragedi siswa SD yang bunuh diri di NTT tersebut diharapkan menjadi momentum perbaikan sistem perlindungan sosial dan pendidikan, agar tidak ada lagi anak yang kehilangan harapan hanya karena keterbatasan ekonomi.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

KPAI Soroti Kematian Siswa SD di NTT, Ini Pemicunya

KPAI Soroti Kematian Siswa SD di NTT, Ini Pemicunya

NASIONAL
Sambangi Rumah Duka Murid di NTT, Kemendikdasmen Beri Santunan

Sambangi Rumah Duka Murid di NTT, Kemendikdasmen Beri Santunan

NASIONAL
Perbandingan Kemiskinan Kabupaten Ngada dengan Daerah Lain di NTT

Perbandingan Kemiskinan Kabupaten Ngada dengan Daerah Lain di NTT

NUSANTARA
Potret Sunyi Kemiskinan yang Menyisakan Luka di NTT

Potret Sunyi Kemiskinan yang Menyisakan Luka di NTT

NUSANTARA
KPPPA dan Polisi Dalami Penyebab Siswa SD Bunuh Diri di NTT

KPPPA dan Polisi Dalami Penyebab Siswa SD Bunuh Diri di NTT

NASIONAL
Ironi Kebijakan Negara di Balik Tragedi Anak SD NTT Bunuh Diri

Ironi Kebijakan Negara di Balik Tragedi Anak SD NTT Bunuh Diri

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon