Kasus Siswa SD Bunuh Diri di NTT, Kemendikdasmen Turun Tangan
Rabu, 4 Februari 2026 | 10:58 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan akan menyelidiki insiden tragis seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengakhiri hidupnya karena diduga tidak mampu membeli buku dan pena seharga Rp 10.000.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti saat dimintai tanggapan wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
“Nanti coba kita selidiki ya. Saya belum tahu informasinya,” kata Mu’ti.
Ia mengaku belum menerima laporan lengkap terkait peristiwa tersebut. Namun, Kemendikdasmen memastikan akan menelusuri kasus tersebut untuk mengetahui latar belakang dan penyebab yang melatarinya.
“Saya belum tahu, nanti kita selidiki lagi ya penyebabnya apa dan sebagainya,” ujar Mu’ti singkat.
Sementara itu, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden memilukan yang menimpa siswa SD di NTT tersebut. Mensos yang akrab disapa Gus Ipul menegaskan, kasus ini menjadi perhatian serius pemerintah, khususnya Kementerian Sosial.
“Kami prihatin, turut berduka. Tentu, ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, tentu bersama pemerintah daerah. Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita. Ya kita harapkan tidak ada (keluarga miskin dan miskin ekstrem, red.) yang tidak terdata,” kata Gus Ipul.
Ia menekankan pentingnya penguatan basis data sosial agar seluruh keluarga yang membutuhkan perlindungan dan bantuan negara dapat terjangkau, terutama keluarga dalam kategori miskin ekstrem (desil-1) dan miskin (desil-2).
“Ini hal yang sangat penting. Saya kira kembali kepada data. Bagaimana data ini kita saksikan sebaik mungkin sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi, dan memerlukan pemberdayaan,” ujar dia.
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya yang berinisial MGT (47). Surat tersebut ditulis sederhana, tetapi penuh pesan perpisahan yang menyentuh.
Dalam surat itu, sebagaimana telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan, “Surat buat Mama. Mama saya pergi dahulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya Mama. Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya. Selamat tinggal Mama."
Isi surat tersebut memicu duka mendalam sekaligus keprihatinan luas dari masyarakat.
Korban diketahui tinggal bersama neneknya, sementara sang ibu merupakan orang tua tunggal yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.
Kasus ini kembali menyoroti persoalan kemiskinan, akses pendidikan dasar, serta pentingnya kehadiran negara dalam melindungi anak-anak dari keluarga rentan. Pemerintah diharapkan dapat segera melakukan evaluasi dan penguatan kebijakan agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Piala Dunia 2026: 2 Gol Undav Bawa Jerman Comeback Lawan Pantai Gading




