ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

BI Pastikan Belum Akan Turunkan Suku Bunga di Tengah Tekanan Global

Selasa, 17 Maret 2026 | 17:52 WIB
AH
AD
Penulis: Akmalal Hamdhi | Editor: AD
Ilustrasi Bank Indonesia.
Ilustrasi Bank Indonesia. (Antara)

Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia (BI) memastikan belum akan menurunkan suku bunga acuan dalam waktu dekat di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan berbagai dampak perang antara Iran dan Israel terhadap ekonomi global, termasuk lonjakan harga minyak dan tekanan di pasar keuangan.

“Dampak perang Timur Tengah terhadap harga minyak, pertumbuhan ekonomi global, dan inflasi dunia kami perkirakan akan menekan pertumbuhan dan mendorong inflasi lebih tinggi,” ujar Perry dalam konferensi pers rapat dewan gubernur (RDG) BI, Selasa (17/3/2026).

ADVERTISEMENT

Menurutnya, konflik tersebut juga memicu tekanan di pasar keuangan global yang berdampak langsung pada negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Aliran modal keluar, penguatan dolar AS, serta tingginya yield US Treasury memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” kata Perry.

BI mencatat, arus keluar modal portofolio dari emerging market meningkat seiring penguatan dolar AS. Selain itu, kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury turut mendorong kenaikan suku bunga dan yield obligasi pemerintah di berbagai negara berkembang.

Dalam merespons kondisi tersebut, BI mengkalibrasi bauran kebijakan melalui intervensi di pasar valuta asing, pengelolaan cadangan devisa, serta kebijakan suku bunga.

Sejalan dengan itu, BI menegaskan tidak lagi membuka ruang penurunan suku bunga dalam waktu dekat.

“Oleh karena itu, dalam pernyataan kali ini kami tidak lagi menyampaikan kemungkinan penurunan suku bunga,” tegas Perry.

BI memilih mempertahankan suku bunga acuan guna memperkuat stabilitas eksternal dan efektivitas kebijakan moneter di tengah gejolak global.

Dalam rapat dewan gubernur (RDG) 16-17 Maret 2026, BI memutuskan mempertahankan BI rate di level 4,75%. Suku bunga deposit facility tetap di 3,75% dan lending facility berada di level 5,50%.

Selain kebijakan suku bunga, BI juga memperkuat stabilisasi nilai tukar melalui berbagai instrumen operasi moneter dan kebijakan lalu lintas devisa, termasuk rencana penyesuaian aturan transaksi valas mulai April 2026.

Perry menegaskan, seluruh langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen bank sentral menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global.

"Itulah langkah-langkah yang terus kami lakukan, intinya Bank Indonesia berkomitmen penuh dan all out akan menjaga stabilitas nilai tukar dengan berbagai instrumen-instrumen yang kami punya di kebijakan moneter," pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Rupiah Melemah, Segelintir Orang Diuntungkan tetapi Mayoritas Tertekan

Rupiah Melemah, Segelintir Orang Diuntungkan tetapi Mayoritas Tertekan

EKONOMI
BI dan Pemerintah Diminta Lebih Sinkron Jaga Rupiah

BI dan Pemerintah Diminta Lebih Sinkron Jaga Rupiah

EKONOMI
Uang Palsu Turun Drastis, BI Ungkap Rupiah Makin Sulit Dipalsukan

Uang Palsu Turun Drastis, BI Ungkap Rupiah Makin Sulit Dipalsukan

EKONOMI
BI Klaim Rupiah Kini Semakin Sulit Dipalsukan

BI Klaim Rupiah Kini Semakin Sulit Dipalsukan

EKONOMI
BI–Bareskrim Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu

BI–Bareskrim Musnahkan 466.535 Lembar Uang Palsu

EKONOMI
Rupiah Rontok ke Rp 17.528 Per Dolar AS, Purbaya Siap Dipanggil DPR RI

Rupiah Rontok ke Rp 17.528 Per Dolar AS, Purbaya Siap Dipanggil DPR RI

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon